Massa Aksi di depan Kantor Kemnaker RI, Foto: Istimewa

Jakarta – Aksi karyawan dan buruh PT. Nusa Halmahera Minerals (PT. NHM) di kantor pusat perusahaan tambang tersebut di Jakarta, mendapat tindakan premanisme dari pihak kantor PT. NHM. Senin (24/3).

Hal ini disampaikan oleh Ketua Solidaritas Anak Muda Indonesia Timur (SMIT), Mesak Habari, kepada awak media. Mesak mengatakan, pada Senin (24/3) pukul 13.00 WIB, pihaknya bersama para buruh bergerak dari Tugu Proklamasi menuju Kantor Pusat PT. NHM, menggunakan satu buah mobil komando (mokom), satu mobil kopaja dan beberapa kendaraan roda dua (motor). Namun, aksi tersebut mendapat tindakan premanisme oleh pihak keamanan PT. NHM.

“Pada pukul 13.00 WIB, kami bersama para buruh/pekerja bergerak dari Tugu Proklamasi menuju Kantor Pusat PT. NHM menggunakan satu mobil komando, satu mobil Kopaja, dan beberapa motor,” jelas Mesak.

“Tiba lebih dulu mobil komando dan beberapa motor. Namun, yang terjadi sungguh miris, tindakan premanisme yang justru di pertontonkan oleh pihak kantor PT. NHM,” lanjutnya.

Billa, salah satu masa aksi, mengatakan, kurang lebih 50 meter dari kantor PT. NHM, mereka sudah diserang.

“Kurang lebih 50 meter dari kantor PT. NHM, kami sudah diserang dengan cara-cara premanisme” ujarnya.

“Mulai dari memukul, merusak sound system, mengambil bendera, spanduk dan melakukan pelemparan batu yang sungguh dahsyat,” lanjut Billa.

Billa juga mengatakan bahwa mereka kemudian bergegas lari karena sopir mokom yang mereka tumpangi sudah ketakutan.

Mesak kembali mengatakan, pihaknya kaget ketika kawan-kawan yang berada di mokom melakukan panggilan telepon dan mengatakan mereka diserang kelompok preman berjumlah lebih dari 30 orang.

“Kami kaget kawan-kawan yang berada di mobil komando melakukan panggilan telepon bahwa mereka diserang kelompok preman kurang lebih 30an orang.” ucapnya

BACA JUGA   Dinyatakan Sehat pada Pemeriksaan Kesehatan di Kemendagri, Ubaid-Anjas Siap Dilantik!

Ironisnya, setelah ditelusuri beberapa video pendek, kelompok preman tersebut berasal dari tiga serikat pekerja yang berada di PT. NHM.

“Setelah itu, kami yang berada di mobil Kopaja tiba di lokasi dan dihadang oleh polisi yang berjumlah lima kali lipat dari kita,” ungkap Mesak.

“Tuhan belum mengizinkan kita hadap-hadapan langsung dengan para serikat yang meninggalkan anggotanya untuk menghamba pada bos. Kalau tidak, saya tidak tau apa yang terjadi, karena saya dan teman-teman pekerjaan/buruh kenal betul mereka yang melakukan pemukulan itu,” tegasnya.

Mesak menambahkan kurang lebih satu jam mereka dihadang dan harus berdebat dengan pihak polisi.

“Pukul 16:00 WIB kami menuju Kantor Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), dan kami diterima untuk berdiskusi serta memasukkan laporan kezaliman perusahaan dan serikat pekerja terhadap buruh/pekerjaan PT. NHM,” ungkapnya.

Mesak menyampaikan, pemerintah tidak boleh diam menghadapi perusahaan yang merusak tatanan hidup masyarakat. Sudah tidak membayar upah para pekerja, malah mengadu domba sesama pekerja.

“Ini adalah cara-cara kolonial, SMIT aja terus bersama para buruh/pekrja untuk memperjuangkan hak-hak merek,” pungkas Mesak.

Reporter: Tim Sentra.

Editor: M. Rahmat Syafruddin