Tidore – Suasana hangat terasa di Pendopo Kesultanan Tidore ketika Dewan Brigade Nusantara (BRINUS) Maluku Utara bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI menggelar diskusi publik bertajuk “Penguatan Relawan Gerakan Kebijakan Pancasila kepada Masyarakat”, Sabtu (31/8).

Diskusi ini tidak hanya berbicara soal Pancasila sebagai dasar negara, tetapi juga menautkannya dengan kearifan lokal yang telah lama hidup di masyarakat Tidore.

Akademisi Universitas Khairun, Syahrir Ibnu, menyebut Pancasila bukan lagi sekadar doktrin yang harus diperjuangkan, melainkan sudah melekat dalam diri setiap insan Indonesia.

“Negara ini dibingkai Pancasila dan kearifan lokal. Tugas kita bukan hanya menjaganya, tapi merawat, membela, sekaligus meneladankan nilai-nilainya, terutama di tengah krisis keteladanan kepemimpinan,” ujarnya.

Hal senada ditegaskan Ketua Komisi II DPRD Kota Tidore Kepulauan, Ardiansyah Fauzi. Menurutnya, jauh sebelum Montesquieu atau John Locke merumuskan teori politik Barat, di Timur Nusantara, tepatnya di pulau Tidore, Sultan Saifuddin telah membentuk dan menata demokrasi lokal sejak 521 tahun lalu.

“Saya membayangkan kalau Pancasila itu dirumuskan di Maitara dibawah pohon amo (sukun), yang kemudian Sukarno bilang bahwa yang saya dapatkan dari Pancasila yakni kristalisasi dari adat, kebiasaan, warga nusantara, yang kemudian di rumuskan dalam 5 sila,” ungkap Ardiansyah.

“Jauh sebelum Montesque menulis tentang Trias politika, Jhon look membuat disertasinya tentang pembagian kekuasaan, Saya ingin katakan bahwa 521 tahun yang lalu ditanah ini, ditempat kita ini ada 1 bangunan yang diberinama Gululu mande atau bangunan demokrasi yang dibangun oleh Sultan Saifuddin yakni 5 sila atau 5 falsafah orang Tidore,” terangnya.

Sementara, Direktur Jaringan dan Pembudayaan BPIP RI, Toto Purbiyanto, mengingatkan bahwa makna Pancasila juga hadir dalam lagu kebangsaan.

BACA JUGA   Sampaikan Siloloa pada Upacara Peringatan HJT, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Janji Tingkatkan Upaya Pelestarian Budaya Tidore

“Coba resapi lirik Indonesia Raya: bersatu untuk bahagia, berjanji untuk abadi. Itu pesan Pancasila agar bangsa ini tidak terpecah belah,” ucapnya.

Toto juga menjelaskan bahwa terpecahnya negera-negara besar seperti Uni Soviet Yugoslavia, menandakan bahwa tidak adanya perekat bangsa yang dimiliki oleh negara tersebut, berdeda dengan Indonesia.

“Pernah dengah negara Uni Soviet? Sekarang sudah gak ada, pernah dengar negara Yugoslavia? Gak ada sekarang mereka, gak abadi. Kenapa? Karena mereka tidak punya pedoman hidup, tak punya 1 pandangan hidup. Pandangan yang menyatukan semuanya yakni Pancasila,” jelas Toto.

Sebagai informasi bahwa penguatan relawan ini merupakan kali kedua setelah Morotai. Tujuannya sederhana tapi mendalam: mendekatkan masyarakat dengan nilai-nilai Pancasila agar benar-benar hidup dalam keseharian.

Diskusi di pendopo bersejarah itu seakan meneguhkan bahwa Pancasila tidak berdiri sendiri. Ia bertumbuh bersama kearifan lokal, seperti yang diwariskan para leluhur Tidore – sebuah warisan yang tak pernah lekang oleh waktu.

Reporter: Akbar.

Redaktur: M. Rahmat Syafruddin