Kiamat Perang Dunia Ketiga Menguat: Apa Langkah Indonesia Memitigasi Konflik Rusia-Amerika?

“Indonesia harus menjadi pemain bukan penonton abadi. Indonesia memiliki daya dan pengaruh yang kuat atas kontrol konflik-konflik global hari ini. Hanya saja, rasa percaya diri itu belum sepenuhnya di yakini oleh pemimpin sekarang. Sudah saatnya pemimpin kita mengambil peran. Membangun masyarakat dunia dan menciptakan masyarakat abadi!”

Baru-baru ini kita disuguhkan dengan isu global, diantaranya soal ketegangan Rusia dan Amerika yang semakin memanas. Ketegangan ini dipengaruhi oleh intervensi AS dalam konflik Rusia-Ukraina. Ukraina yang dahulu merupakan satu kesatuan dengan Rusia atau Uni Soviet, kini harus di invasi oleh Rusia karena alasan kedaulatan. Bermula dari ekspasi NATO merengkut Ukraina (2022), mengakibatkan operasi militer Rusia bergerak menghadang Ukraina.

Putin, Presiden Rusia mengerti bahwa rekrutmen NATO kepada Ukraina tidak semata-mata soal pakta pertahanan, tapi juga boomerang atau ancaman bagi kedaulatan Rusia. Sebab, Ukraina akan dijadikan Buffer Zone (Daerah Penyangga), sekaligus akan di bangun pangkalan militer AS di perbatasan Rusia-Ukraina.

Jika hal itu terjadi, menurut Putin, sewaktu-waktu, ketika gesekan lintas negara adidaya antara Rusia dan Amerika terjadi karena faktor ideologi, ekonomi dan politik yang memicu perang militer, Ukraina akan dijadikan pionnya Amerika dalam skema proxy war. Putin memahami watak dan pola main Amerika, makanya Rusia menghadang Ukraina sebagai langkah yang tepat.

Dalam invasi, Rusia tidak mengincar kelompok sipil, tapi target utamanya ialah Presiden Ukraina (Vladimir Zelensky). Namun, Zelensky yang dibentengi militer mengharuskan Rusia harus menerobos paksa, sehingga kontak fisik militer pun terjadi, tembakan mesiu, rudal, bom dan bunyi jet tempur pun membisingi kota masing-masing.

Amerika hadir seolah menjadi pahlawan atau polisi dunia, dengan mengerahkan dua kapal selam melintasi samudera pasifik menuju perairan dekat wilayah Rusia. AS bermaksud menghentikan konflik Rusia-Ukraina dengan jalan memaksakan Putin lewat intimidasi dan saksi tambahan apabila Rusia tidak mengakhiri peperangan. Dan jika hal itu terjadi, maka Amerika yang akan menghancurkan Rusia.

BACA JUGA   Keberagaman di Jazirah Moloku Kie Raha: Membangun Masa Depan Kepemimpinan Inklusif untuk Semua

Upaya tersebut juga di pandang AS sebagai jalan menuju perundingan atau memitigasi konflik Rusia-Ukraina yang bermuara pada genjatan senjata dan pakta perjanjian. Sayangnya, modus dan kartu hitam Amerika itu terbaca oleh Putin jauh sebelum ketegangan ini berlangsung. Makanya, dengan keberanian dan kekuatan, Putin tetap tegar menyerukan perlawanan kepada Amerika.

Perang Proxy: Membaca Simpul, Mengungkap Play Maker Di Balik Konflik Rusia-Ukraina

Amerika dan China merupakan Play Maker di balik ketegangan global belakangan. China adalah negara cerdik yang bermain di balik panggung sebagai sutradaranya negara-negara asia dan transkontinental. Sedangkan Amerika (proxynya Inggris) adalah Play Maker sebagai sutradara negara-negara eropa kontinenal-angloxason murni.

Tesis dan analisis ini, boleh saja diragukan. Atau pun sebaliknya, di kaji lebih mendalam. Karena tulisan ini merupakan opini dari sumber-sumber yang didapatkan kemudian dihubungkan dari studi kasus belakangan.

Just a moment...