Dalam simpul konflik Rusia-Ukraina, Amerika dibekingi Inggris berhadapan dengan Rusia dibekingi China. Ketika skema perang proxy digunakan, China tidak boleh terlalu tampil ke permukaan. Kalau pun ia tampil, pasti hanya sekilas, setelah itu tenggelam. Begitu pun dengan Amerika, proxynya Inggris.

Simpul ini secara kasat mata dan tidak kasat mata, berlangsung di kancah percaturan global. Inggris pasang badan sebagai donatur Amerika, bila dibutuhkan. Sebaliknya Rusia, China akan pasang badan sebagai donaturnya. Namun, tanpa sadar, mereka masing-masing memiliki kepentingan ekonomi dan politik.

Mengenai konflik Rusia-Ukraina, tabir gelap dan target dibalik operasi militer Rusia ialah melumpuhkan ekonomi Amerika. Agar China, di ikuti Rusia naik tahta mengambil alih dunia, mengontrol percaturan ekonomi politik global. Tapi syaratnya, Amerika harus tumbang proxynya Inggris. Karena dengan sendirinya, apabila Amerika tumbang, maka Inggris juga mendapatkan dampak yang luar biasa.

Dapat di garis bawahi bahwa, konflik Rusia-Ukraina, aslinya, ialah perang hegemoni antara China VS Inggris melalui perang proxy Rusia VS Ukraina proxynya Amerika. Masing-masing memiliki ambisi, kepentingan, ideologi, visi dan misi berbeda-beda. China dan Rusia menawarkan win-win (sama-sama menang, sama-sama untung), sedangkan Inggris dan Amerika menawarkan win-lose (ada yang kalah-menang, ada untung-rugi).

Barangkali itu, skema dari proxy war, simpul dan play maker di balik konflik Rusia-Ukraina. Setiap kepentingan adalah upaya dalam menghalalkan segala cara, mulai dari pendekatan Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya Pertahanan dan Keamanan (IPOLEKSOSBUDHANKAM).

Ketika membaca pergolakan dasyat yang sistematis, terstruktur dan masif, dimana kiamat diciptakan dengan mudah,

Langkah Indonesia Dalam Memitigasi Perang Rusia-Amerika Dan Usaha Membangun Masyarakat Dunia Serta Perdamaian Abadi

Indonesia dalam beberapa kali upaya meredam ketegangan konflik Rusia-Ukraina tidak berhasil dan berujung buntu. Seiring perkembangan, konflik Rusia-Ukraina berkepanjangan menimbulkan ketegangan baru antara Rusia dan Amerika. Gejolak kedua negara super power ini patuh di cegah lebih awal, sebelum keduanya menciptakan kiamat buatan, apabila perang militer berbasis nuklir terjadi.

BACA JUGA   HUT Bayangkara, Satbrimob Polda Malut Bakti Sosial Pembersihan Taman Love Ternate

Indonesia adalah negara yang menjadikan Ketertiban Dunia dan Perdamaian Abadi sebagai cita-cita (baca alinea ke 4 UUD 1945). Untuk itu, jelas bahwa Indonesia harus mengambil peran aktif dalam rangka memitigasi konflik ketegangan antara Rusia dan Amerika. Indonesia harus terlibat penuh dengan langkah-langkah dan tawaran-tawaran solutif.

Indonesia harus menjadi pemain bukan penonton abadi. Bila perlu, Indonesia menawarkan diri sebagai tuan rumah perundingan antara Putin, Presiden Rusia dan Trump, Presiden Amerika. Bahkan, Indonesia menggelar Konferensi Antar Benua sebagai usaha dalam membangun masyarakat dunia dan menciptakan perdamaian abadi.

Bukankah Indonesia pernah menggemparkan sejarah di tahun 1955? Dimana Indonesia pernah menjadi tuan rumah sekaligus penggagas dari agenda besar Konferensi Asia Afrika, di Bandung. Preseden inilah yang patuh di contoh oleh Pemimpin-Pemimpin Indonesia hari ini, dari Pemimpin pertama RI, Ir. Soekarno.