Tidore – Upaya menjaga warisan budaya bawah air di Kota Tidore Kepulauan terus mendapat perhatian serius. Flinders University Australia bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Pemerintah Kota Tidore menggelar lokakarya bertajuk “Meninjau Kembali Situs Kapal Tenggelam yang Pernah Diangkat dan Dijarah di Indonesia dalam Kerangka Pengembangan Terintegrasi untuk Menjaga Warisan Budaya Bawah Air”.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Ahmad Laiman, di Aula Sultan Nuku, Kantor Wali Kota, Rabu (9/7).

Dalam sambutannya, Ahmad Laiman menekankan pentingnya sejarah Tidore yang kaya, baik di darat maupun di bawah air. Ia menyampaikan bahwa ekowisata terintegrasi berbasis situs kapal tenggelam dapat dikembangkan melalui konsep wisata sejarah maritim dan arkeologi bawah air yang ramah lingkungan, menjaga keutuhan budaya setempat, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Pariwisata di Tidore kini semakin berkembang, namun wisata penyelaman bawah air belum menjadi daya tarik utama. Minimnya informasi mengenai lokasi penyelaman dan situs kapal tenggelam membuat kita belum mengetahui potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian daerah melalui wisata,” ujar Wawali.

Lebih lanjut, Ahmad Laiman menyatakan bahwa Tidore dipilih sebagai fokus utama kegiatan ini karena perannya yang penting dalam sejarah Jalur Sutra dan Jalur Rempah Maritim, serta signifikansinya dalam peristiwa The First Circumnavigation of the Earth. Ia berharap lokakarya ini membuka wawasan baru dan memberi dampak positif bagi pelestarian warisan budaya bawah laut.

Mewakili Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara, Irwansyah menyampaikan bahwa upaya pelestarian situs cagar budaya bawah air sudah dilakukan sejak 2016. Kolaborasi terbaru bersama Flinders University dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI akan meliputi ekskavasi situs Soasio dan Tongowai, dengan tujuan mengungkap indikasi bangkai kapal kayu dan memanfaatkan situs tersebut secara berkelanjutan untuk masyarakat Tidore.

BACA JUGA   Sandang Gelar Kota Paling Inovatif, Tidore Diapresiasi Kemendagri

Sementara itu, Associate Professor dari Flinders University, Prof. Dr. Martin Polkinghorne, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari linkage project “Reuniting Orphaned Cargoes”, yang menilai kembali pentingnya warisan budaya kapal karam yang telah diangkat secara komersial dan dijarah di Indonesia.

Proyek ini bertujuan menyusun strategi pengelolaan terpadu yang melibatkan seluruh pihak terkait dalam menjaga warisan budaya bawah air, sekaligus mendukung pengembangan lanskap budaya maritim di Tidore.

Reporter : Tim Sentra

Editor : M. Rahmat Syafruddin