Haltim – Warga Desa Waci dan Peteley, Kecamatan Maba Selatan, kembali mengeluhkan buruknya jaringan internet 4G yang telah berlangsung lama. Kondisi ini tetap tanpa perhatian serius dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo).

Fardi Hasib, salah satu warga Peteley, menyatakan kecewa karena buruknya akses internet menghambat aktivitas sehari-hari, mulai dari pendidikan hingga pekerjaan. Ia menyoroti kesenjangan dengan desa lain yang sudah menikmati jaringan stabil.

“Daerah lain sudah berdering, tapi Waci dan Peteley masih mode senyap, bahkan mode pesawat,” keluh Fadri.

Ia menambahkan, warga terpaksa membeli voucher WiFi milik warga setempat dengan harga Rp5.000 untuk 5 jam dan Rp10.000 untuk 12 jam. Dalam sebulan, biaya ini bisa mencapai hampir Rp300.000.

“Koneksi yang tidak stabil ini sangat menghambat mahasiswa seperti kami, juga menyulitkan warga mendapatkan informasi penting, termasuk pelayanan publik dan pendidikan,” jelasnya.

Keluhan serupa diungkapkan Heryanto Aponno. Menurutnya, tower mini yang ada tidak cukup melayani pengguna di kedua desa. Warga terpaksa pergi ke desa tetangga seperti Bicoli atau Gotowasi demi sinyal 4G yang stabil.

“Jaringan internet ini benar-benar menguji kesabaran. Saat mengakses informasi, loading sangat lama, sehingga kami harus beli voucher atau pergi ke desa tetangga,” ujar Heryanto.

Heryanto, yang pekerjaannya mengandalkan internet, menambahkan bahwa sejak Halmahera Timur mekar menjadi kabupaten sendiri 22 tahun lalu, kondisi jaringan masih belum memadai. Ia bahkan harus membeli voucher WiFi 3–4 kali sehari untuk mendukung pekerjaannya.

“Umur Indonesia sudah 80 tahun, umur Halmahera Timur 22 tahun, tapi kami di Waci dan Peteley belum menikmati internet 4G yang layak,” tegasnya.

Keluhan warga ini menunjukkan bahwa masalah jaringan bukan sekadar sinyal lemah, tetapi juga terkait kesetaraan akses informasi, pendidikan, dan kualitas hidup masyarakat.

BACA JUGA   SEMAINDO Halbar-DKI Jakarta Desak Kejagung RI Copot Kajati Malut

Warga berharap pemerintah daerah segera menanggapi masalah ini dengan serius, membangun infrastruktur memadai, dan memastikan desa-desa di Maba Selatan tidak terisolasi secara digital.

Reporter : Bahtiar Abdurrahman

Editor : M. Rahmat Syafruddin