Taliabu – Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Taliabu (PB HMT), Abdul Nasar Rachman, mengecam pelayanan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Unit Bobong, Kabupaten Pulau Taliabu, yang dinilai tidak maksimal terhadap nasabah, Rabu (15/4).
Kecaman itu disampaikan menyusul keluhan nasabah terkait pelayanan BRI Unit Bobong yang sebelumnya diberitakan media lokal dan dinilai tidak profesional.
Menanggapi hal tersebut, Abdul Nasar Rachman menilai pelayanan perbankan, khususnya BRI sebagai BUMN, seharusnya berpedoman pada aturan dan prinsip tata kelola yang baik.
“Pelayanan Bank Rakyat Indonesia (BRI) diatur berdasarkan kerangka hukum perbankan Indonesia yang menekankan pada fungsi intermediasi, perlindungan nasabah, dan prinsip kehati-hatian. Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pelayanan BRI berlandaskan pada beberapa UU dan peraturan terkait:
UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998: Menetapkan fungsi utama bank sebagai penghimpun dana masyarakat dan penyalur kredit untuk meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
UU No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara: Mengatur tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance),” terang Nasar.
Ia menilai, pelayanan BRI Unit Taliabu tidak mencerminkan prinsip tersebut dan telah lama dikeluhkan masyarakat.
“Berdasarkan panduan regulasi di atas harusnya BRI Unit Taliabu lebih pandai-pandai dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat, kalo persoalan ini baru dikeluhkan di media, justru itu bukan yang pertama kalinya, akan tetapi dari akumulasi kemuakan nasabah dan masyarakat dengan pelayanan BRI Taliabu yang diduga ‘ugal-ugalan’,” ucapnya.
Nasar juga menyoroti sulitnya akses layanan perbankan bagi masyarakat di wilayah Taliabu yang harus menempuh jarak jauh dan menunggu lama hanya untuk membuka rekening.
“Bayangkan bahkan ada nasabah yang hanya urus pembuatan rekening saja misalnya masyarakat di luar Kota Bobong, contohnya masyarakat dari Taliabu Utara, Taliabu Timur maupun Taliabu Selatan yang akses jalan cukup terbatas, dan sangat mahal,” jelasnya.
“Apalagi yang tidak punya jalan darat, kadang harus menunggu berhari-hari di Kota Bobong hanya untuk pembuatan rekening, ini diakibatkan karena tidak maksimalnya pelayanan BRI Unit Taliabu baik secara fasilitas maupun tenaga pelayanannya,” lanjutnya.
Ia juga menyebut masih banyak keluhan terkait layanan kredit hingga keterbatasan pelayanan di unit tersebut.
“Dan masih banyak sekali ketidakkompetenan pihak BRI Unit Taliabu, ada saja kendalanya, baik alasan yang kerja tidak mampu melayani lah, sudah istirahat lah, sedang keluar lah, tenaga kerja kuranglah dan banyak sekali, kan kasihan masyarakat,” tutur Nasar.
“Belum lagi nasabah yang ingin kredit sering diduga dipersulit, diperlambat pelayanannya padahal BRI sebagai penopang ekonomi harusnya mampu memberikan kontribusi terbaik untuk akses modal bagi masyarakat, bahkan diduga sampai ada yang mengeluh malas mau kredit di BRI Taliabu, selalu kayak rumit,” tambahnya.


























