Selain berbicara mengenai adat dan sejarah, Boki Nita juga menyampaikan harapannya agar pembangunan di Maluku Utara mendapat perhatian lebih besar dari pemerintah pusat.
Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Ternate. Bahkan, sejak bersama almarhum Sultan Mudaffar Syah, dirinya pernah memiliki tempat yang dikenal dengan nama Bubaneina.
Menurutnya, kepulangannya ke Ternate bukan sekadar untuk bernostalgia, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi masyarakat Maluku Kie Raha.
“Yang penting saya senang bisa kembali lagi ke Ternate. Tidak besar, tidak banyak, tapi ada kontribusi yang bisa saya bantu pemikiran untuk masyarakat Maluku Kie Raha,” cetusnya.
Boki Nita juga menyinggung peran suaminya yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Transmigrasi. Menurutnya, program transmigrasi dapat memberikan dampak terhadap pembangunan daerah, khususnya dalam penyediaan infrastruktur dasar.
Ia menyebut pembangunan di kawasan transmigrasi dapat mendorong penyediaan berbagai fasilitas, mulai dari jembatan, sekolah hingga fasilitas sanitasi.
“Sebagai istri Wakil Menteri Transmigrasi, tentu saya akan terus menyampaikan aspirasi agar Maluku Utara mendapat perhatian dalam kebijakan pembangunan pemerintah pusat.
Ia menyebut, Maluku Utara selama ini tetap memperoleh dukungan anggaran meskipun pemerintah tengah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran.
Upaya tersebut, kata Boki Nita, merupakan bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat Maluku Kie Raha, khususnya Ternate, yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah hidupnya.
“Memang sekarang dikurang-kurangkan, ada efisiensi anggaran, tapi tetap ada. Tidak pernah kosong untuk Maluku Utara,” tandasnya.
Reporter: Tim Sentra
Editor: Redaksi

























