
Morotai – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Khairun (Unkhair) menginventarisasi dan merekonstruksi cerita rakyat di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, dengan menjadikan legenda Putri Dehegila sebagai salah satu fokus riset untuk menggali potensi budaya dan ekonomi kreatif daerah, Senin (17/8).
Riset tersebut dilakukan Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN untuk mendokumentasikan tradisi lisan sekaligus mengidentifikasi berbagai unsur budaya yang berpotensi dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif.
Legenda Putri Dehegila tidak hanya dikaji sebagai warisan sastra lisan, tetapi juga ditelusuri unsur-unsur budaya yang terkandung di dalamnya. Riset tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan cerita rakyat sebagai sumber identitas budaya yang dapat dipadukan dengan kekuatan Morotai lainnya, seperti keindahan alam, sejarah, dan gugusan kepulauan.
Legenda Putri Dehegila berkisah tentang seorang putri bernama Dei. Ketika usianya dianggap telah cukup untuk menikah, ayahnya yang merupakan seorang pemimpin di wilayah tersebut bermaksud mencarikan pasangan yang dianggap pantas bagi putrinya.
Untuk menentukan calon suami Putri Dei, digelar sayembara berupa pertarungan bela diri. Sayembara tersebut dimenangkan Kapita Sopi, tokoh yang dalam legenda disebut berasal dari wilayah utara Morotai.
Namun, kemenangan Kapita Sopi belum serta-merta membuatnya dapat mempersunting Putri Dei. Ia harus memenuhi syarat yang ditetapkan sebagai mahar perkawinan, yakni memindahkan pulau-pulau yang berada di wilayah utara Morotai ke wilayah selatan hanya dalam waktu satu malam.
Tugas tersebut berhasil dilakukan. Dari sejumlah pulau yang hendak dipindahkan, sebagian besar berhasil mencapai wilayah selatan. Dalam salah satu versi cerita yang berkembang di masyarakat, dari 12 pulau yang hendak dipindahkan, 11 berhasil mencapai wilayah selatan, meskipun salah satunya disebut tiba tidak bersamaan dengan pulau-pulau lainnya.
Kegagalan memindahkan seluruh pulau dalam versi tersebut tidak membatalkan perkawinan. Kapita Sopi tetap diterima sebagai pasangan Putri Dei dan perkawinan keduanya kemudian dirayakan bersama masyarakat.
Tim peneliti menemukan legenda Putri Dehegila tidak berkembang dalam satu versi tunggal. Berdasarkan keterangan sejumlah narasumber, terdapat beberapa varian cerita yang diwariskan di tengah masyarakat.
Dalam satu versi, pihak yang menetapkan syarat mahar adalah Sangaji, ayahanda Putri Dei. Sementara dalam versi lainnya, syarat tersebut justru diajukan oleh Putri Dei sendiri.
Perbedaan juga ditemukan dalam kisah mengenai asal-usul pulau. Ada versi yang menyebut pulau-pulau tersebut dipindahkan oleh Kapita Sopi, sedangkan versi lainnya menggambarkan pulau-pulau tersebut sebagai sesuatu yang diciptakan.
Bagi tim peneliti, perbedaan tersebut bukan semata-mata persoalan untuk menentukan versi mana yang paling benar. Variasi cerita justru menjadi bagian penting dari tradisi lisan yang menunjukkan bagaimana sebuah legenda diwariskan, ditafsirkan, dikembangkan, dan terus dimaknai masyarakat dari generasi ke generasi.

























