Dalam masyarakat risiko, persepsi menjadi bagian dari realitas sosial. Ketidakpercayaan dapat tumbuh bukan karena bencana besar, tetapi karena ketidaktransparanan kecil yang berulang.
Globalisasi Risiko dan Ketimpangan Struktural
Salah satu tesis penting Beck adalah bahwa risiko modern bersifat global, tetapi distribusinya tidak setara. Dalam konteks geothermal multinasional, keuntungan ekonomi dan reputasi dapat mengalir lintas negara—ke investor dan pemegang saham global—sementara konsekuensi ekologis bersifat lokal.
Ini menciptakan apa yang bisa disebut sebagai asimetri risiko global:
–Modal dan reputasi bersifat transnasional.
–Dampak ekologis bersifat lokal dan teritorial.
Dalam kerangka political ecology, ini mencerminkan bentuk baru ekstraktivisme hijau. Sumber daya panas bumi diekstraksi untuk mendukung agenda dekarbonisasi, tetapi struktur relasi kuasanya tetap mengikuti pola pusat-pinggiran.
Bukan berarti bahwa Ormat atau perusahaan lain bertindak di luar hukum atau standar. Persoalannya lebih subtil: apakah struktur kebijakan memungkinkan masyarakat lokal untuk benar-benar memiliki posisi tawar, atau sekadar menjadi penerima informasi?
Ilusi Netralitas Teknologi
Teknologi geothermal sering dipresentasikan sebagai solusi netral yang berbasis sains. Namun Beck mengingatkan bahwa dalam masyarakat risiko, sains sendiri menjadi arena politik. Para ahli dapat berbeda pandangan tentang tingkat risiko yang dapat diterima. Ketika ketidakpastian muncul, keputusan akhirnya tetap bersifat politis.
Mengatakan bahwa “risiko dalam batas wajar” bukanlah pernyataan objektif semata, tetapi juga keputusan normatif: wajar bagi siapa? Dapat diterima oleh siapa?
Di sinilah ilusi netralitas teknologi perlu dikritisi. Setiap proyek energi membawa nilai, kepentingan, dan prioritas tertentu. Ketika geothermal disebut “lebih bersih” dari batu bara, perbandingan itu benar dalam konteks emisi karbon. Tetapi kebersihan karbon tidak otomatis berarti keadilan ekologis.
Menuju Tata Kelola Refleksif
Jika mengikuti gagasan reflexive modernity, solusi bukanlah penolakan terhadap PT Ormat Geothermal Indonesia atau geothermal secara umum. Yang diperlukan adalah transformasi tata kelola.
Beberapa langkah refleksif yang krusial:
1. Keterbukaan data seismik real-time yang dapat diakses publik, bukan hanya regulator.
2. Forum deliberatif independen yang melibatkan warga, akademisi lokal, dan organisasi masyarakat sipil.
3. Skema pembagian manfaat langsung, seperti dana komunitas berbasis produksi listrik.
4. Audit risiko berkala oleh lembaga independen internasional dan nasional.
5. Pengakuan eksplisit atas ketidakpastian ilmiah, alih-alih narasi kepastian absolut.
Transisi energi yang demokratis bukan hanya tentang mengganti bahan bakar, tetapi juga mendemokratisasi produksi pengetahuan dan distribusi risiko.
Epilog: Di Antara Harapan dan Kewaspadaan
Geothermal melalui perusahaan seperti PT Ormat Geothermal Indonesia merepresentasikan harapan besar dalam menghadapi krisis iklim. Namun melalui lensa Ulrich Beck dan political ecology, kita diingatkan bahwa setiap solusi modern membawa bayangannya sendiri.











