Yogyakarta – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta Periode 2025-2026 resmi di lantik, pada Sabtu, (27/12) di Sagan Heritage Hotel Yogyakarta.
Agenda tersebut turut dihadiri oleh Chumaidi Syarif Romas yang merupakan Ketua Umum PB HMI 1976-1978, perwakilan KAHMI DIY beserta Koordinator Presidium FORHATI, perwakilan Walikota Yogyakarta, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Widya Mataram, pengurus komisariat se-cabang Yogyakarta, korkom UIN Sunan Kalijaga, korkom UII, Lapmi Sinergi, LAPENMI, LEMI dan beberapa organisasi Cipayung Plus.
Dalam sambutan perdananya, Isra Boy mengatakan, visi utama dalam menjalankan kepengurusan HMI Cabang Yogyakarta selama satu periode kedepan adalah untuk menjadikan HMI Cabang Yogyakarta sebagai cabang yang kolaboratif, kritis dan berdaya saing untuk mencapai tujuan HMI
Menurutnya, dalam kehidupan sosial masyarakat dan keorganisasian kemahasiswaan, khususnya himpunan Mahasiswa Islam, tidak mungkin tidak ada konflik.
“Sebab konflik adalah proses sosial yang niscaya terjadi di dalam setiap kehidupan sosial,” tuturnya.
“Yang menjadi tantangan paling besar adalah mengintegrasikan ide dan gagasan seluruh kelompok kepentingan di tubuh HMI cabang Yogyakarta sebagai sebuah kekuatan untuk mendobrak kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada lingkungan, umat dan bangsa,” tambahnya.
Hal ini, sambung Isra, tidak terlepas dari problem yang terjadi di tubuh HMI cabang Yogyakarta, yaitu kelompok kepentingan yang terfragmentasi yang saling bersentimen antara kelompok satu dengan kelompok yang lain.
“Hal ini membuat pelemahan kekuatan di tubuh Himpunan Mahasiswa Islam cabang Yogyakarta,” katanya.
Mahasiswa Fisipol universitas Widya Mataram ini menjelaskan, hal tersebut dapat dilihat dari tujuan HMI itu sendiri. Tujuan adalah suatu cita-cita besar HMI untuk memastikan kualitas pendidikan yang baik, menjadi kader pencipta, lalu kemudian mengabdi yang lahir dari nafas Islam dalam rangka memastikan terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah subhanahu wa ta’ala.
“Sejak HMI dideklarasikan pada tanggal 5 Februari 1947 sampai dengan hari ini, kita masih menjalani proses menuju pada cita-cita ideal Himpunan Mahasiswa Islam,” jelasnya.
Isra yang juga mantan Wasekum Bidang PA tersebut juga menuturkan, tarian soya-soya yang dipakai pada pembukaan acara tersebut bukan sekadar tarian perang, melainkan simbol perlawanan yang lahir dari luka sejarah.
“Tarian ini muncul setelah sultan Khairun dibunuh secara licik oleh Portugis, dari tragedi itu bangkitlah sultan Baabullah, sang putra, yang menyalakan api perjuangan rakyat Maluku Utara,” imbuhnya.
“Dengan strategi dan keteguhan, ia menutup jalur pangan dan perniagaan hingga akhirnya mereka tak berdaya dan terusir dari Ternate,” sambung Isra.
Kader komisariat Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini berharap, kisah tersebut sebagai cermin bagi seluruh Mahasiswa, khususnya kader HMI cabang Yogyakarta dalam melihat keadaan bangsa hari ini.
“Seperti halnya sultan Baabullah, kita pun harus melawan bentuk-bentuk penjajahan baru yang menindas rakyat. Entah dalam wujud kekuasaan, kebijakan, maupun ketidakadilan sosial,” pungkasnya.


























