Saatnya Berbenah, Taliabu Butuh Arah

Lebih jauh, sulit untuk mengabaikan bayang-bayang dinasti politik yang begitu kuat memengaruhi arah pemerintahan di Taliabu. Banyak orang melihat bahwa Sashabila Mus tidak benar-benar memimpin dengan visi independen, melainkan mengikuti orbit kekuasaan keluarga yang telah lama mendominasi politik di Maluku Utara.

Dominasi semacam ini membuat ruang kritik menyempit dan inovasi mandek. Ketika keputusan besar lebih dipengaruhi oleh loyalitas internal daripada nalar publik, maka pembangunan tidak berjalan berdasarkan kebutuhan masyarakat, tetapi berdasarkan peta kekuasaan.

Taliabu pada akhirnya terjebak dalam pola yang sama. “Pimpinan boleh berganti, wajah boleh lebih muda, tetapi struktur kekuasaan tetap tidak berubah”. Dalam situasi seperti ini, inovasi akan stagnan, potensi putra-putri daerah terhambat, dan kepemimpinan berubah menjadi rutinitas yang monoton, bukan energi yang memajukan.

Padahal, Taliabu memiliki modal yang sangat besar untuk berkembang. Kekayaan alam, letak geografis yang strategis, dan masyarakat yang semakin kritis serta semakin terdidik. Namun modal ini tidak akan menjadi kekuatan apabila pemerintah gagal menata arah pembangunan dan gagal memastikan bahwa kebijakan dibuat berdasarkan kebutuhan riil rakyat, bukan demi menjaga keseimbangan politik internal.

Apa gunanya visi jika tidak diikuti ketegasan eksekusi? Apa gunanya kepemimpinan muda jika mentalitas yang digunakan masih mentalitas lama?

Saatnya Berbenah, Taliabu Butuh Arah, diperhatikan bukan dipantau dari meja pusat, atau perjalanan dinas yang bikin habis anggaran. Perubahan itu di jemput, bukan besok, bukan tahun depan tetapi sekarang.

Jika dalam pemerintahan Sashabila Mus tidak segera memperbaiki tata kelola, menata ulang birokrasi, membersihkan figur-figur bermasalah, membuka ruang kritik, dan melepaskan diri dari kendali keluarga, maka Taliabu akan terus bergerak tanpa kompas.

Taliabu layak mendapatkan pemimpin yang berpihak, bukan pemimpin yang sekadar hadir. Taliabu layak mendapatkan perubahan, itu bukan alasan. Taliabu layak mendapatkan masa depan yang disusun oleh keberanian mengambil keputusan, bukan oleh kenyamanan yang katanya loby-loby pusat.

BACA JUGA   Tutup Turnamen Gawang Mini di Kalumata, Makmur Gamgulu Sindir Pemkot dan Janji Begini!

Jika tidak ada langkah besar yang dilakukan, maka sejarah akan mencatat kepemimpinan hari ini bukan sebagai momentum perbaikan, melainkan silklus berulang pada ketikpekaan, KKN, OPD bermasalah, Jalan-jalan mengantar nyawa, pendidikan tak berkualitas, tenaga kesehatan tak berkompeten, pelayanan buruk, birokrasi hancur.

Kami tak butuh pemimpin muda, yang kami butuhkan pemimpin yang berani bertanggung jawab secara penuh, terbuka terhadap kritik, dan tegas menegakkan integritas birokrasi. Kepemimpinan Sashabila Mus sebenarnya masih memiliki peluang untuk berubah arah, melakukan evaluasi, dan membuktikan kapasitasnya.

Tetapi jika gaya kepemimpinan saat ini tetap dipertahankan mengabaikan pengawasan, membiarkan struktur birokrasi diisi figur bermasalah, menutup telinga dari aspirasi publik, dan terjebak dalam lingkaran dinasti maka Taliabu akan terus berjalan lambat, bahkan mungkin mundur di saat daerah lain sedang berlari.

Just a moment...