Sukabumi – Setelah melaksanakan penanaman 35.899 pohon pada April 2026 di empat desa penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Implementing Partner FOLU Net Sink 2030 dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, kembali melanjutkan rangkaian program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan peningkatan kapasitas petani.

Kegiatan yang berada di bawah koordinasi Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc.F.Trop ini merupakan bagian dari upaya memastikan keberlanjutan pengelolaan tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS) dan tanaman kehutanan yang telah ditanam sekaligus memperkuat kesiapan masyarakat menuju pengusulan areal preservasi.

Pelatihan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Petani Desa Penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak dalam Pengelolaan Lahan Berkelanjutan: Langkah Persiapan Menuju Pengusulan Areal Preservasi” ini dilaksanakan selama lima hari dengan tema yang berbeda setiap harinya.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari strategi penguatan kapasitas masyarakat dalam mendukung pengelolaan lanskap berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek konservasi, peningkatan serapan karbon, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di desa penyangga.

Hari pertama pelatihan yang dilaksanakan pada 14 Juni 2026 mengangkat tema “Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif.”

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Zulham, sekaligus PEH Ahli Muda sekaligus Koordinator Pokja Konservasi Kawasan, Keanekaragaman Hayati, dan Pembayaran Jasa Lingkungan (KK, KKH, dan PJL) SPTN Wilayah III Sukabumi Balai TNGHS.

Dalam sambutannya, Zulham menegaskan bahwa penguatan kapasitas petani desa penyangga menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pelestarian fungsi ekologis kawasan.

“Penguatan kapasitas petani desa penyangga menjadi langkah penting dalam mewujudkan pengelolaan lahan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengurangi fungsi ekologis kawasan,” ujarnya, Senin (15/06).

BACA JUGA   Resmi Dilantik, Ketua SEMAHABAR Ternate Langsung Kritisi Pemindahan RS Pratama dari Loloda

Ia menuturkan, ketika masyarakat memiliki sumber penghidupan yang baik, produktivitas lahan meningkat, dan hasil pertanian memberikan keuntungan yang lebih besar, maka tekanan terhadap kawasan hutan juga akan berkurang.

“Dengan demikian, konservasi dan kesejahteraan bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua tujuan yang dapat dicapai secara bersamaan melalui kolaborasi dan pengelolaan yang tepat,” tuturnya.

Lebih lanjut, kata Zulham, materi pelatihan disampaikan oleh Ir. Andi Sukendro, M.Si, dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang memiliki kepakaran di bidang silvikultur dan teknologi perbanyakan tanaman hutan.

“Peserta mendapatkan pemahaman mengenai berbagai teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif yang dapat diterapkan untuk menghasilkan bibit secara mandiri,” lanjutnya.

“Materi yang diberikan meliputi teknik stek, cangkok, okulasi, serta sambungan atau grafting. Selain penyampaian materi di dalam kelas, peserta juga mengikuti praktik lapangan untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan teknis,” tambah Zulham.