Pada sesi praktik, sambung Zulham, tanaman durian dan alpukat digunakan sebagai objek pembelajaran. Kedua jenis tanaman tersebut dipilih karena merupakan komoditas MPTS yang paling diminati petani serta memiliki nilai ekonomi tinggi di wilayah desa penyangga TNGHS.

“Peserta pelatihan berasal dari empat desa penyangga TNGHS yang menjadi lokasi intervensi program Implementing Partner FOLU Net Sink DKSHE IPB University, yaitu Desa Cihamerang, Kabandungan, Cipeuteuy, dan Mekarjaya,” imbuhnya.

Menurutnya, untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, kegiatan dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pagi pukul 08.00–12.00 WIB untuk Desa Cihamerang dan Kabandungan, serta sesi siang pukul 13.00–16.00 WIB untuk Desa Cipeuteuy dan Mekarjaya.

“Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan, terutama saat sesi praktik perbanyakan tanaman,” kata Zulham.

Lebih jauh, Zulham mengatakan, para petani menilai materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan mereka karena dapat diterapkan secara langsung untuk menghasilkan bibit tanaman MPTS secara mandiri.

Ia berharap, melalui kegiatan tersebut dapat mengurangi biaya pembelian bibit, meningkatkan ketersediaan bahan tanam berkualitas, serta mendorong pengembangan usaha tani yang lebih produktif dan berkelanjutan.

“Melalui rangkaian pelatihan ini, DKSHE IPB University bersama Balai TNGHS berharap masyarakat di empat desa penyangga semakin memiliki kapasitas dalam mengelola lahan secara berkelanjutan, meningkatkan produktivitas usaha tani, serta berperan aktif dalam menjaga kelestarian kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak,” harapnya.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari langkah strategis dalam mendukung keberlanjutan program penanaman 35.899 pohon serta mempersiapkan masyarakat menuju pengusulan areal preservasi yang dikelola secara partisipatif, produktif, dan berkelanjutan.

Reporter : Tim Sentra

Editor : Redaksi

 

BACA JUGA   Pengurus HIPMI Kota Tidore Kepulauan Masa Bakti 2025-2028 Resmi Dilantik