Ternate – Kunjungan kehormatan Wali Kolano Kesultanan Ternate, Boki Nita Budhi Susanti, mendapat sambutan hangat dari masyarakat Pulau Hiri. Kamis, (25/12).
Dalam agenda ini, Boki Nita dan rombongan menggelar tradisi Kololi Kie bersama Kolano Madoru (Putra Sultan), tokoh serta masyarakat adat Pulau Hiri. Tujuannya adalah untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menegaskan peran penting kesultanan dalam menjaga identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Pada kesempatan tersebut, Boki Nita menyampaikan ucapan terima kasih kepada perangkat adat Kesultanan Ternate yang berada di Pulau Hiri atas sambutan hangat terhadap Kolano Madoru.
Ia menuturkan, kunjungannya di Pulau Hiri hanya sekadar kunjungan liburan sekaligus menunaikan janjinya kepada masyarakat adat Kesultanan Ternate untuk mengembalikan Kolano Madoru sesuai amanat almarhum Sultan Mudaffar Sjah.
“Sebenarnya mereka ini saya mau simpan dulu sampai umur 17 tahun. Tapi masyarakat Adat sudah tidak sabar, sehingga itu saya selalu dibujuk untuk mengembalikan mereka ini ke Ternate,” tuturnya.

“Kalau sekarang ada versi-versi yang lain tidak apa-apa. Kita tetap berpegang teguh pada jaib kolano, jaib kolano itu pegangan kita dan surat wasiat masih ada,” tambahnya.
Menurutnya, terdapat dua keputusan sultan, yakni Idin Kolano dan Jaib Kolano. Idin Kolano menyangkut pembagian hak-hak masyarakat tentang lahan, batas wilayah dan keputusan-keputusan menyangkut masyarakat.
“Kalau Idin Kolano itu bisa direvisi jika terdapat protes dari masyarakat atau ketentuan-ketentuan tertentu,” jelasnya.
Sementara Jaib Kolano, sambung Boki, adalah keputusan sultan atas petunjuk Allah SWT yang bersifat mutlak dan tidak dapat dibatalkan.
“Keputusan tertinggi atas izin Allah adalah keputusan yang mutlak. Dan seorang sultan atau Kolano itu tidak mungkin mengambil keputusan dengan gegabah kalau sudah menyangkut Allah dan alam semesta, karena dampaknya luar biasa,” tambahnya.
Ia menambahkan, sultan merupakan Khalifatullah yang berarti pemimpin umat di muka bumi untuk menjalankan perintah Allah SWT terhadap semua ciptaan-Nya.
“Insya Allah seorang sultan pun juga akan memiliki sifat-sifat Nabi yang dijaga dari kesalahan, kalau sultan sudah berbuat perilaku yang salah berarti itu bukan sultan sejati,” imbuhnya.
Boki Nita menegaslan, dirinya harus kembali ke Ternate karena masih terikat dengan adat Kesultanan Ternate. Meskipun saat ini hidupnya lebih baik dan makmur di Jakarta.
“Ini semua saya lakukan karena cinta, karena ini semua adalah sumpah waktu saya di ‘Sinunako‘ menjadi Boki pada 13 Desember 2001. Dan itu tercatat dalam dokumen Arsip Nasional Negara,” imbuhnya.
Ia berharap, adat seatorang harus tetap dijaga oleh masyarakat adat Kesultanan Ternate sebagai satu kekuatan dalam menjaga identitas sejarah.
“Karena adat dan budaya orang Ternate sudah dikenal begitu luas, adat dan budaya merupakan identitas sejarah yang patut kita jaga,” tandasnya.


























