Sejarawan Daerah Maluku Utara, Irfan Ahmad, 2026, foto: Istimewa

Ternate — Kabar duka datang dari dunia akademik dan kebudayaan di Maluku Utara. Sejarawan ternama daerah, Irfan Ahmad, dikabarkan tutup usia pada, Selasa (07/4).

Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi kalangan akademisi, mahasiswa, dan pemerhati sejarah di Maluku Utara.

Semasa hidupnya, Irfan Ahmad dikenal sebagai sosok yang konsisten mengkaji, menulis, dan memperjuangkan pelestarian sejarah lokal Maluku Utara.

Ia aktif dalam berbagai forum ilmiah, diskusi publik, hingga kegiatan edukasi yang mendorong generasi muda untuk lebih mengenal akar sejarah daerahnya. Pemikirannya banyak memberi kontribusi dalam memperkuat identitas lokal di tengah arus modernisasi.

Dosen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Khairun Ternate, itu menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 23.30 WIT.

Sejumlah kolega dan tokoh masyarakat mengenang almarhum sebagai pribadi yang sederhana, namun memiliki dedikasi tinggi terhadap ilmu pengetahuan.

“Beliau bukan hanya sejarawan, tapi juga guru bagi banyak orang. Warisan pemikirannya akan terus hidup,” ujar salah satu rekan sejawatnya.

Kepergian Irfan Ahmad dinilai sebagai kehilangan besar bagi Maluku Utara, terutama dalam upaya merawat ingatan kolektif dan narasi sejarah daerah.

Penulis jurnal yang berjudul “Migrasi Etnik Makeang Abad XVII-XIX” itu meninggal dunia pada usia 43 tahun.

Banyak pihak berharap, semangat dan perjuangan almarhum dapat diteruskan oleh generasi muda, agar sejarah lokal tidak hilang ditelan zaman.

Reporter : Tim Sentra

Editor : Redaksi

BACA JUGA   Gunakan Cara Unik, Poros Milenial Ubaid-Anjas Sosialisasikan Visi-Misi dan Contoh Surat Suara secara Door To Door