Oleh: Dr. Abdul Motlaib Angkotasan, S.Pi., M.Si.
(Dosen Universitas Khairun Ternate)
Seantero wilayah Nusantara dalam beberapa periode mengalami peningkatan suhu udara yang memicu kondisi panas dan kering, sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Di Pulau Kalimantan, kebakaran hutan telah menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya vegetasi yang berperan penting sebagai penyerap karbon serta penyangga keseimbangan lingkungan. Salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah fenomena El Niño, yaitu fase dari ENSO (El Niño–Southern Oscillation) yang terjadi akibat interaksi antara atmosfer dan lautan di Samudra Pasifik.
Pada saat El Niño, suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur meningkat, sementara angin pasat melemah sehingga pusat pembentukan awan bergeser menjauh dari wilayah Indonesia. Akibatnya, proses pembentukan hujan berkurang dan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan, musim kemarau yang lebih panjang, serta meningkatnya risiko kekeringan. Sebaliknya, pada fase La Niña, angin pasat menguat sehingga curah hujan di Indonesia umumnya meningkat.
Dampak El Niño paling dirasakan oleh masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil yang memiliki keterbatasan sumber air tawar dan ketergantungan tinggi terhadap curah hujan. Kekeringan menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih, menurunnya produksi pangan lokal, serta memengaruhi mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir dan perikanan. Oleh karena itu, diperlukan kajian mengenai dampak El Niño terhadap ketahanan air dan pangan serta strategi adaptasi masyarakat pulau-pulau kecil untuk meningkatkan ketangguhan menghadapi variabilitas iklim.
Terdapat dua pendekatan yang perlu dilakukan dalam menghadapi tantangan ini. Pertama, perlu dilakukan kajian proyeksi terjadinya El Niño untuk mengetahui kemungkinan waktu kejadian, intensitas, durasi, serta pola perkembangannya pada periode mendatang. Kajian ini penting sebagai dasar dalam mengantisipasi dampak El Niño terhadap kondisi iklim, khususnya perubahan curah hujan, peningkatan risiko kekeringan, dan dampaknya terhadap sektor-sektor pembangunan yang rentan terhadap variabilitas iklim. BMKG juga menekankan pentingnya pemantauan dan pemutakhiran prediksi ENSO secara berkala karena perkembangan El Niño dapat memengaruhi kondisi musim di Indonesia.
Kedua, kebijakan afirmatif pangan dan air bersih perlu diperkuat untuk menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan akses masyarakat terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, serta sumber air bersih yang layak. Kebijakan ini perlu diarahkan terutama bagi wilayah dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim, kekeringan, keterbatasan infrastruktur, dan gangguan distribusi pangan, sehingga ketahanan pangan dan ketahanan air dapat terjaga secara berkelanjutan.
El Niño Mengancam Kehidupan Masyarakat Pulau Kecil
Anomali iklim bukan lagi sekadar prediksi di atas kertas bagi masyarakat yang hidup di pulau-pulau kecil Indonesia. Di wilayah pesisir terluar, perubahan pola cuaca global dirasakan sebagai ancaman langsung terhadap isi piring makan dan ketersediaan air bersih sehari-hari.


























