Jakarta – Direktur Harian Advokasi Tambang Maluku Utara (HANTAM MALUT) Alfatih Soleman, mengecam PT Harita Group terkait sebaran CO² di Pulau obi dan sekitarnya.

Pasalnya, operasi pabrik vero nikel PT Harita Group telah menyebabkan menurunnya kualitas udara akibat emisi carbon CO² di kawasn tersebut, terutama di Kawasi maupun di pulau Obi secara keseluruhan.

Dalam rilis yang diterima Sentra, Alfatih Soleman menjelaskan, PT HPAL dibawah naungan Harita Group. Mengoperasikan smelter hidrometalurgi yang berfungsi mengolah bijih nikel menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), dan turunannya berupa nikel sulfat (NiSO4) dan cobalt sulfat (CoSO4).

“Tentu menghasilkan emisi carbon yang begitu besar dalam satu hari proses produksinya,” jelas Alfatih.

Menurutnya, sebaran asap atau emisi udara dari pabrik hidrometalurgi nikel, terutama yang menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), mengandung berbagai zat berbahaya bagi kesehatan warga maupun lingkungan hidup.

“Sampai saat ini pihak perusahan belum berfokus pada kombinasi teknologi pembersihan udara, optimalisasi reagen, dan penerapan prinsip sirkular di pulau Obi dan sekitarnya,” sesalnya.

Kondisi ini, menurut Alfatih, diperparah oleh adanya penggundulan hutan di kawasan tersebut.

Sementara, kata Alfatih, keuntungan luar biasa mengalir ke negara dari kekayaan alam pulau Obi, di mana warganya harus berhadapan dengan kerusakan ekologis yang kian parah.

Alfatih mengatakan, eksploitasi sumber daya yang tidak diiringi dengan upaya konsisten menjaga kelestarian lingkungan, dan peningkatan perekonomian setempat, maka masyarakat lokal akan menjadi pihak yang paling dirugikan.

“Pengelolaan sumber daya yang tidak didasarkan pada prinsip keberlanjutan hidup, tentu memicu timbulnya sederet dampak kerusakan di segala dimensi ruang,” pungkasnya.

Reporter: Tim Sentra

Editor: Redaksi

BACA JUGA   Optimis Juara STQH Tingkat Provinsi, Kafilah Halmahera Timur Siap Bertolak ke Sofifi Minggu Besok