Talaga yang tadinya memiliki sejuta cerita historis dan satwa endemik, kini mulai terancam punah dengan kehadiran proyek Panas Bumi. Penebangan pohon sebagai akses beroperasinya Panas Bumi mengharuskan burung Bidadari Halmahera dan satwa lain kehilangan tempat tinggal.
Menurut Kristmannsdóttir & Ármannsson (2003) – Icelandic Geothermal Experts
Dalam studi mereka di Islandia, para ahli ini menemukan bahwa: “Salah satu dampak paling serius adalah kontaminasi air permukaan oleh fluida geotermal yang mengandung logam berat.”
Bahaya menurut mereka: Kontaminasi air tanah dan sungai akibat pembuangan cairan sisa eksploitasi. Kerusakan vegetasi lokal akibat peningkatan suhu dan zat kimia di tanah. Ketika hal ini benar-benar terjadi, maka warisan yang kita tinggalkan untuk generasi hanyalah cerita tanpa pembuktian, Generasi kita tidak akan lagi bisa bertemu dengan cantiknya burung Bidadari Halmahera yang mendiami hutan di Talaga Rano. Talaga Rano adalah jati diri. Kehilangan Talaga Rano sama halnya dengan kehilangan jati diri. Tanah yang telah ditanam cengkeh, pala, dan kelapa kini harus lenyap dengan dalil investasi.
Tanah yang memiliki historis panjang tentang kehidupan, adat istiadat, komunitas, perjuangan dan kepercayaan tidak bisa digadaikan dengan kepentingan para investor. Secara pribadi, saya sangat mendukung dengan pembangunan dan kemajuan, hanya saja ada batasan yang perlu dipertimbangkan, diantaranya pembangunan harus didasari dengan mengedepankan hak masyarakat adat.
Alangkah baiknya, untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dan historis, pemerintah daerah perlu memikirkan agar bagaimana Talaga Rano didorong menjadi objek wisata, sederhananya, Pemerintah Daerah membangun tanpa merusak dari wajah asli Talaga Rano.
Penulis:
Tiklas P. Babua (Aktivis Halmahera Barat)











