Kehadiran Ketua PP Muhammadiyah, Muhammad Busyro Muqoddas turut menjadi bagian dari perjumpaan ini. Perspektif dan pandangannya mengenai pengkhianatan pengetahuan, membuka kembali pandangan kita akan posisi dunia kampus dalam merespon berbagai permasalahan lingkungan yang terjadi di negeri ini.

Menurut Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut mengungkapkan bahwa pengkhianatan pengetahuan terjadi ketika ilmu tidak lagi berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan, tetapi justru menjadi alat legitimasi kekuasaan dan kepentingan modal. Dalam konteks krisis ekologis, kita membutuhkan keberanian intelektual untuk membongkar ketidakadilan, bukan membenarkannya. Karena itu, gerakan lingkungan harus menjaga nalar kritis, integritas moral, dan keberpihakan kepada masyarakat serta keberlanjutan kehidupan.

Tema “Melambat dalam Budaya Layar” menjadi penting ketika media sosial dan ekosistem digital membentuk cara masyarakat memahami persoalan publik. Isu lingkungan dapat dengan cepat memperoleh perhatian, tetapi juga mudah tenggelam oleh arus informasi berikutnya. Perhatian yang singkat berisiko membuat persoalan struktural kehilangan konteks, sementara masyarakat yang menghadapi dampak persoalan tersebut tetap harus menjalani perjuangan dalam jangka panjang.

Melambat bukan berarti pasif atau menyerah. Sebaliknya, melambat merupakan upaya merebut kembali ruang untuk berpikir, mendengarkan, memeriksa informasi, dan membangun hubungan yang lebih kuat antarkomunitas. Gerakan lingkungan membutuhkan lebih banyak ruang perjumpaan yang mempertemukan pengalaman warga dengan pengetahuan ilmiah, kerja jurnalistik, refleksi etis, dan strategi advokasi.
Melalui film dan diskusi, penyelenggara ingin menegaskan bahwa layar seharusnya tidak hanya menjadi tempat mengonsumsi informasi, tetapi juga pintu masuk menuju pemahaman dan tindakan nyata. Dokumentasi audiovisual dapat membantu memperluas percakapan publik, tetapi daya hidup gerakan lingkungan ditentukan pula oleh kerja kolektif yang berlangsung setelah pemutaran berakhir.

Dukungan Ecobhinneka dan LHKP Muhammadiyah terhadap kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membuka ruang dialog mengenai lingkungan, keadilan sosial, dan masa depan gerakan kritis. Ruang diskusi di Kantor PP Muhammadiyah diharapkan memungkinkan beragam perspektif bertemu tanpa kehilangan keberanian untuk mempertanyakan arah pembangunan dan menempatkan kepentingan masyarakat serta keberlanjutan ekologis dalam percakapan publik.

BACA JUGA   Bahas Inflasi, TPID Tidore Kembali Ikut Rakor Bersama Kemendagri

Screening dan diskusi The Season of Extinctio pada akhirnya mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menyaksikan krisis, tetapi juga memahami akar persoalannya dan merawat kemungkinan perubahan. Di tengah dunia yang kacau, gerakan lingkungan membutuhkan kesabaran untuk mendengar, keteguhan untuk mengkritik, dan solidaritas untuk terus bergerak. Sebab, perjuangan ekologis tidak selesai ketika layar menjadi gelap melainkan dari sanalah percakapan dan kerja bersama semestinya dimulai.

Reporter: Tim Sentra