Tikep – Pemerintah Kota Tidore Kepulauan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan Meus Project Indonesia menggelar Pameran Arsip bertajuk “Ruang Kota, Arsip dan Identitas Sejarah”. Kegiatan ini berlangsung di eks Kediaman Gubernur Pertama Provinsi Irian Barat, Kelurahan Tomagoba, Sabtu (20/12).
Mewakili Wali Kota Tidore Kepulauan, Asisten Bidang Administrasi Umum Yakub Husain dalam sambutannya menyampaikan, visi dan misi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan telah menjadi spirit baru bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus berkolaborasi serta mempertahankan nilai-nilai budaya yang telah ada.
Ia menjelaskan, sektor pariwisata telah ditetapkan sebagai sektor unggulan daerah. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata akan diarahkan pada sektor-sektor berbasis kebudayaan, sehingga objek-objek budaya di Tidore Kepulauan dapat dikembangkan menjadi wisata minat khusus.
“Memperbanyak museum dengan catatan-catatan sejarah itu sangat penting, karena Tidore memiliki sejarah sirkumnavigasi yang sebelumnya belum banyak diketahui. Kini sejarah tersebut semakin membumi melalui pelaksanaan event nasional dan internasional di Kota Tidore, seperti Sail Tidore dan Hari Nusantara,” ujar Yakub.
“Selain itu, sejarah Irian Barat juga semakin dikenal dengan ditetapkannya Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Pahlawan Nasional,” lanjutnya.
Yakub menambahkan, terdapat sejarah yang tercatat sebelum tahun 1108 yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap. Namun demikian, masyarakat adat di sejumlah wilayah masih merawat tradisi-tradisi tersebut dan hal ini perlu digali serta didokumentasikan secara berkelanjutan.
“Ini menjadi potensi besar jika diangkat, karena dapat menarik wisatawan minat khusus dan menjadi kekayaan sejarah bagi Kota Tidore Kepulauan,” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya orientasi pengembangan kebudayaan melalui kegiatan-kegiatan kolaboratif bersama para pelaku budaya dan komunitas lokal. Menurutnya, ruang-ruang publik perlu dimanfaatkan sebagai media pameran untuk mensosialisasikan catatan-catatan sejarah kepada seluruh lapisan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku Utara, Winarto, menyampaikan bahwa pameran arsip ini memiliki peran penting dalam merawat memori kolektif serta menghidupkan kembali ingatan sejarah masyarakat di Kota Tidore Kepulauan.
“Tidak semua orang tertarik atau mengetahui sejarah masa lalu. Namun melalui pameran arsip ini, kekayaan budaya Indonesia dapat ditampilkan sehingga mampu menarik perhatian masyarakat luas, bahkan bangsa lain, untuk datang dan mengenal kondisi geografis, kekayaan alam, serta budaya yang dimiliki,” tuturnya.
Winarto berharap kegiatan serupa dapat terus ditingkatkan dan dikembangkan melalui peran aktif komunitas-komunitas budaya yang ada di Kota Tidore Kepulauan. Ia juga berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk mengenal dan melestarikan kebudayaan di wilayah masing-masing.
Ketua Panitia Pelaksana, Syahid Syahar, dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun ingatan kolektif masa lalu melalui arsip sejarah, sekaligus menjadi media pendidikan karakter untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, nasionalisme, serta nilai-nilai positif lainnya sebagai modal sosial dalam membangun masa depan.


























