Tidore – Pemerintah Kota Tidore Kepulauan menegaskan komitmennya untuk memberikan dukungan penuh kepada Forum Peduli Bahasa Daerah Kota Tidore dalam upaya pengkajian dan penguatan bahasa Tidore sebagai warisan leluhur masyarakat setempat.
Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Tidore Kepulauan Muhammad Sinen, didampingi Wakil Wali Kota Ahmad Laiman, saat menerima audiensi Forum Peduli Bahasa Tidore bersama rombongan di ruang rapat Wali Kota Tidore, Rabu (7/1).
Wali Kota Muhammad Sinen menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kepada seluruh tim Forum Peduli Bahasa Tidore atas kepedulian mereka terhadap pelestarian bahasa daerah. Menurutnya, bahasa Tidore merupakan identitas budaya yang harus dijaga dan diperjuangkan keberadaannya.
“Saya merasa bangga dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim. Semoga pertemuan ini membawa dampak positif ke depan, agar bahasa Tidore sebagai warisan leluhur tidak diklaim oleh pihak lain dengan menyatakan bahwa bahasa Tidore hanya merupakan dialek dari bahasa daerah lain,” ujar Muhammad Sinen.
Senada dengan itu, Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan Ahmad Laiman menegaskan, bahwa Pemerintah Kota Tidore Kepulauan akan terus memberikan dukungan terhadap upaya pengkajian ulang bahasa daerah Tidore melalui kolaborasi yang baik antara pemerintah dan komunitas literasi.
“Mari kita berkolaborasi dengan baik. Mudah-mudahan pertemuan ini berjalan sesuai harapan dan memberi manfaat bagi kita semua,” katanya.
“Pada intinya, pemerintah daerah menyambut baik forum ini dengan harapan kita bersama-sama membangkitkan bahasa Tidore agar dikenal lebih luas, tanpa adanya klaim bahwa bahasa Tidore merupakan dialek dari bahasa daerah lain,” sambung Abang Leman sapaan akrabnya.
Sementara itu, Ketua Forum Peduli Bahasa Tidore, Yusuf Khairun, menjelaskan bahwa forum tersebut merupakan komunitas literasi yang memiliki kepedulian terhadap penguatan bahasa daerah, khususnya bahasa Tidore.
Ia mengungkapkan, selama ini terdapat kegelisahan di kalangan komunitas literasi di Kota Tidore terkait eksistensi bahasa Tidore yang belum sepenuhnya diakui sebagai bahasa ibu atau bahasa asal, melainkan dianggap sebagai dialek dari bahasa daerah lain oleh sebagian peneliti.
“Kegelisahan ini sudah lama kami rasakan. Bahasa Tidore sejauh ini belum dianggap sebagai bahasa asal, padahal kami meyakini bahasa ini memiliki kekhasan dan identitas sendiri,” ujar Yusuf.
Oleh karena itu, lanjut Yusuf, pihaknya sangat membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah daerah untuk bersama-sama mendorong kemajuan dan pengakuan terhadap bahasa Tidore.
“Kami berharap pada tahun 2026, bahasa Tidore dapat ditegakkan dan mampu bersaing sejajar dengan bahasa daerah lainnya di Indonesia,” tandasnya.
Audiensi tersebut turut dihadiri Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum Dr. Syofyan Saraha, Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Taher Husain, Staf Ahli Wali Kota Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan Abdul Hakim Adjam, pimpinan OPD terkait, serta sekitar 20 orang tim Forum Peduli Bahasa Tidore.


























