FIC memiliki beban sejarah untuk memastikan bahwa opsi keduanyalah yang terjadi. Namun, untuk mencapai itu, literasi harus dikembalikan ke khitahnya sebagai praksis sosial. Artinya, ada kesatuan antara teori dan tindakan.
Diskusi-diskusi yang dilakukan selama satu tahun ini harus bertransformasi menjadi gerakan literasi yang mengguncang stabilitas kenyamanan para elit. Kita membutuhkan intelektual yang berani mengatakan “tidak” pada narasi pembangunan yang menghancurkan ekologi dan tatanan sosial masyarakat adat.
Kritik radikal terhadap diri sendiri juga diperlukan. Apakah selama setahun ini FIC telah berhasil menjangkau mereka yang berada di pinggiran, Ataukah kita masih asyik dengan lingkaran internal kita sendiri di pusat-pusat kota.
Literasi sebagai jalan keberpihakan berarti kita harus bersedia melumpur, mendatangi kantong-kantong perlawanan, dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai milik publik, bukan milik segelintir orang yang beruntung secara ekonomi. Kita harus melawan mitos bahwa menjadi cendikiawan berarti menjadi warga kelas atas. Sebaliknya, menjadi cendikiawan berarti memikul tanggung jawab moral yang lebih besar untuk menjadi tameng bagi mereka yang dilupakan oleh sistem.
Dunia literasi kita tidak boleh hanya berhenti pada kegiatan membaca teks, tetapi harus naik kelas menjadi membaca konteks dan merombak struktur. Setiap analisis yang dikeluarkan oleh FIC harus memiliki aroma keberpihakan pada keadilan ekologis dan sosial. Di Maluku Utara, ancaman terhadap ruang hidup sangatlah nyata. Jika para cendikiawan diam saat hutan-hutan ditebang dan pesisir dikeruk, maka literasi hanyalah sampah kata-kata.
Keberpihakan adalah kompas. Tanpa kompas itu, FIC hanya akan menjadi sekumpulan orang pintar yang tersesat di tengah rimba kepentingan. Kita butuh radikalisme berpikir, radikal dalam arti kembali ke akar (radix). Akar masalah kita adalah ketergantungan mental dan ketidakberdayaan intelektual dalam menghadapi dominasi narasi besar yang menindas.
Memasuki tahun kedua, FIC Maluku Utara tidak boleh lagi sekadar berefleksi, tapi harus beraksi dengan lebih garang. Hancurkan tembok-tembok isolasi intelektual. Jadikan setiap tulisan, setiap diskusi, dan setiap riset sebagai martil yang menghantam tembok ketidakadilan. Literasi adalah senjata, dan keberpihakan adalah pelatuknya.
Jangan biarkan senjata itu berkarat dalam genggaman karena ketakutan atau kenyamanan. Jika literasi tidak mampu membuat kita lebih berani membela yang benar, maka lebih baik kita tidak pernah belajar membaca sama sekali. Satu tahun FIC adalah peringatan bagi siapa pun yang mencoba membungkam nalar, bahwa di Maluku Utara, masih ada sekumpulan manusia yang menolak untuk tunduk, yang memilih untuk terus berpikir secara berbahaya demi sebuah kebenaran yang membebaskan.
Perjalanan ini masih panjang, dan jalan keberpihakan memang tidak pernah mudah. Ia penuh dengan risiko, pengucilan, bahkan ancaman. Namun, itulah harga dari sebuah integritas. FIC Maluku Utara harus menjadi oase bagi mereka yang haus akan kebenaran di tengah padang pasir kebohongan publik. Mari kita jadikan literasi sebagai api yang membakar semangat perubahan, bukan sebagai air yang menenangkan gejolak perlawanan.











