Hannah Arendt, seorang filsuf dari Jerman, pernah mengingatkan dalam sebuah catatan dengan judul ‘the banality of evil’ (1963), bahwa kejahatan terbesar sering kali lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari rutinitas yang tidak pernah dipertanyakan. Pemerintahan yang membiarkan jalan rusak, pelayanan publik lamban, dan ketimpangan melebar tanpa rasa bersalah, sedang mempraktikkan sebuah kegagalan.
Malam-malam panjang Zainudin di isi dengan memikirkan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan. Lampu-lampu menyala seadanya. Ia menyadari sesuatu: patah hati membuatnya jujur pada diri sendiri.
Pesimisme yang ia rasakan bukan bentuk kemalasan berpikir, melainkan refleksi terhadap realitas yang tak kunjung berubah.
Pesimisme sering disalahpahami sebagai sikap menyerah. Padahal, dalam banyak kasus, pesimisme justru lahir dari kesadaran yang terlalu lama berharap. Ia adalah luka yang sudah mencoba sembuh berkali-kali, namun kembali terbuka karena realitas yang tak berubah.
Sejarah mencatat, bahwa beberapa pemikir besar justru berhenti berharap pada cinta setelah menyaksikan negaranya gagal merawat warganya.
Tan Malaka salah satunya. Setelah kisah cintanya kandas, hidupnya berjalan sendirian, berpindah dari pengasingan ke pengasingan, dari satu kegagalan ke kegagalan lain, sembari menyaksikan bangsanya terus dirundung kemiskinan dan ketidakadilan.
Di Halmahera Barat, pesimisme rakyat bukan tanpa sebab. Ia tumbuh dari pengalaman panjang melihat kebijakan datang dan pergi tanpa menyentuh akar persoalan. Dalam kondisi seperti ini, diam bukan berarti setuju, dan apatis bukan berarti bodoh.
Ia adalah bentuk perlawanan sunyi, cara paling sunyi untuk mengatakan: kami lelah karena tidak didengar.
Jika Zainudin bisa belajar dari patah hatinya untuk menjadi lebih bertanggung jawab, maka pemerintah Halmahera Barat pun seharusnya mampu belajar dari kegagalannya sendiri.
Jika tidak, maka kopi akan terus diminum dalam sunyi, harapan akan terus mengendap di dasar cangkir, dan Halmahera Barat akan dikenang bukan sebagai tanah yang miskin, tetapi sebagai tanah yang dikhianati oleh mereka yang seharusnya menjaganya.
Penulis: Gusti











