Angin dari gunung Talaga Rano membawa kisah yang tak pernah pulang. Di antara kabut pagi dan desir angin Halmahera, nama Talaga Rano dulu hanya di sebut dalam lirik lagu, seperti doa yang tak pernah selesai.

Ia bukan tempat penghasil emas, batubara, atau pun nikel yang mampu menghasilkan uang miliaran bahkan triliunan dalam sekejap, tetapi ia mampu mengisi energi kehidupan didalam perut Bumi Halmahera sejak ratusan tahun lamanya dan bahkan sampai sekarang, dan itu menjadi satu-satunya sejarah yang membuatnya berbeda di mata Halmahera.

Dari puncak Talaga Rano, semua terlihat sangat jelas keindahan danau yang berisikan 7 pulau, yang di mana Talaga Rano adalah rumah bagi burung bidadari, burung nuri Ternate, burung maleo, burung kakatua, dan rusa . Sesekali, Talaga Rano memperlihatkan keramatnya lewat serpihan piring kuno dan jejak berdirinya Sasadu Lamo (Rumah Adat Sahu).

Di bawah kaki gunung Talaga Rano terlihat perkebunan-perkebunan yang tumbuh subur sejauh mata memandang. Mulai dari pisang, kasbi (Ubi Kayu) batata (Ubi Jalar), kelapa, pala, cengkih, durian, langsat, manggustan (manggis), Padi Ladang, dan Rambutan yang dihasilkan di bawah kaki gunung Talaga Rano untuk pangan Halmahera sejak dahulu.

Siklus perputaran pangan yang berasal dari bawah kaki gunung Talaga Rano yang mampu menghidupi beberapa mata rantai dan keseimbangan alam kini terancam dengan masuknya perusahaan geothermal panas bumi yang akan membumihanguskan kawasan dengan luasan 16.650 Ha itu.

Tanah yang sejak dahulu memiliki sejarah panjang, kini di hantui oleh segelintir elite yang menghunuskan tinta pena melalui tanda tangan untuk menghadirkan korporasi-korporasi yang seyogyanya untuk kepentingan pribadi semata, di mana tidak ada pertimbangan lain hanya karena Talaga Rano berisikan gas bumi dan melupakan emas hijau yang selama ini menjadi warisan alam dan budaya suku Sahu. Alam yang seharusnya di jaga kini menjadi korban korporasi.

BACA JUGA   Orang Makayoa Membentuk Tiga Siklus Peradaban: Dari Kesultanan, Mauritius Portugis Hingga NKRI

Dari potret Talaga Rano, tampak kehidupan yang makmur sejak masa lampau. Kini wajah Talaga Rano mulai redup oleh kepentingan daerah, kepentingan provinsi, dan kepentingan pusat. Talaga Rano ialah reinkarnasi dari kampung tua yang masih menyandang marga perjuangan, tempat lahirnya para kapita, tempat dimana para leluhur menanamkan keseimbangan antara manusia, roh, alam, dan Tuhan.

Di Talaga Rano, bisa dibilang manusia mula-mula Sahu berasal dari sana, siklus kehidupan tumbuh dari sana. Talaga Rano meramu cara pandang manusia untuk memecahkan akar masalah, kenapa tidak? Dua buah kelapa pernah menjadi saksi biksu ketika para kapita mencoba mencari tau akar dari pertikaian yang melibatkan dua kelompok yang hidup di kawasan Talaga Rano, antara kelompok Taraudu (desa Taraudu) dan Talaga Rano (kini menjadi Desa Gamsungi).

Mula-mula, sebelum kelompok Taraudu hidup di kawasan Talaga Rano, penduduk Talaga Rano pernah terpisah menjadi dua Kelompok. Kelompok pertama hidup di kawasan Hutan, dan kelompok kedua lebih memilih hidup di pesisir pantai (sekarang menjadi desa susupu dan sekitarnya), sekalipun cerita lisan dua kelompok yang hidup di hutan dan pesisir ini diwariskan secara turun-temurun tanpa catatan, tetapi sebagian para tetua meyakini akan kehidupan yang telah berlangsung di masa lampau di kawasan Talaga Rano.