Eksodus Gam Woun

Asal muasal marga yang mendiami Talaga Rano dimulai pada abad ke-16 atau pada Tahun 1512 ketika Portugis mulai mendarat di Kepulauan Maluku, lebih tepatnya di Ternate yang dipimpin oleh tokoh penting dalam ekspedisi rempah seperti, Antonio de Abreu atas kepercayaan Gubernur Jenderal Portugis saat itu, Alfonso de Albuquerque.

Eksodus dari Loloda Kudu Ruba Ua (Loloda Bakun) ke Talaga Rano dikarenakan ada satu tradisi yang dilakukan oleh Raja Kanjoe (Raja Loloda) yang ketika menggelar makan – makan adat atau dikenal dalam bahasa Sahu adalah Orom Sasadu diharuskan ada satu anak yang dikorbankan menjadi ‘Alas Anak Magori’ di kaki tiang rumah adat, dari tradisi yang dianggap menyimpang itulah kemudian eksodus dari Loloda Bakun untuk mendiami Talaga Rano.

Disamping itu juga, sempat terlibat peperangan Gamkonora sehingga pada akhirnya mengharuskan komunitas ini berhijrah ke Talaga Rano. (Sumber: Wawancara Tetua Adat, Karel Tjiawa)

Dalam perjalanan dan kehidupan sehari-hari di Gam Woun (Kampung Ofu/Lebah), terdepat dua ekor anjing dengan nama Spipo (Taraudu) dan Bo’oca (Loloda) yang di temukan di Taga Ra’du. Dari dua ekor anjing itulah yang menyematkan bahwa ada dua kelompok yang mendiami Talaga Rano dan menetap sebagai penduduk asli Talaga Rano. (Sumber: Wawancara Tetua Adat, Karel Tjiawa)

Berselang waktu, Gam Woun ini dipimpin oleh Kapita yang dikenal dengan nama Suwatalbessy, kemudian Kapita yang menjaga muara air sungai di kenal dengan Kapita Hukum Tua dan Hukum Biji. Sementara itu, marga asli dari Talaga Rano ialah Latar Besa, Kudu Ruba Ua, Tal’adi Bessy, dan Suwatalbessy.

Selain kehidupan yang dipimpin oleh Kapita, di Gam Woun juga terdapat rumah adat pertama yang dinamakan rumah adat Gusuwong Pangota (Rumah Adat Gamsungi) dan Ngale Gusuwong (Rumah Adat Taraudu). (Sumber: Wawancara Tetua Adat, Karel Tjiawa)

BACA JUGA   Regime of Dispossession: Ironi Tambang di Tanah Halmahera

Asal Muasal Nama Gamsungi

Di era Hindia-Belanda, tepatnya Pada tahun 1820 daratan Halmahera merupakan Wilayah kerja kekuasaan Belanda, pada tahun ini pula Dous dikenal dengan sebutan Talaga Rano yang artinya, Air Obat diambil dai bahasa Suku Sahu (Padisua).

Dalam selang waktu yang cukup lama, terjadi perpindahan kampung Talaga Rano dengan nama Tagallala dan berpindah lagi dengan nama menjadi Gam Naga. Tahun 1912, penduduk Gam Naga eksodus ke wilayah Gemente (Hamente) dengan nama Desa Gamsungi. Nama Desa Gamsungi diambil dari dua suku kata yang berasal dari Bahasa Sahu yaitu, GAM (Kampung) SUNGI (Baru) yang artinya Kampung Baru. Desa Gamsungi merupakan desa Agraris, karena kehidupan masyarakat masih melekat dengan cara bercocok tanam padi (padi ladang). Tanaman padi merupakan tanaman unggulan untuk kelangsungan hidup bagi masyarakat Desa Gamsungi dan cukup kental dengan Adat Istiadat Sahu dan dilengkapi dengan Rumah Adat (Sasadu).

Pada tahun 1912, para pemimpin di kampung atau desa disebut sebagai Nyira dalam bahasa Suku Sahu. Nyira merupakan jabatan tertinggi dan sangat dihargai oleh masyarakat, sekarang dikenal dengan sebutan kepala desa. Ada beberapa nama pemimipin kampung pada waktu itu, antara lain: Nyira Buka (tidak diketahui tahun), Nyira Huko (tidak diketahui tahun) Nyira Mara (tidak diketahui tahun), Nyira Haji (tidak diketahui tahun), Nyira Ishak Beno (1960-1965), Nyira Ngoko (1965-1979), Kepala Desa Ishak Beno (1979-1991), Kepala Desa Nohc Molle (1991-2006), Kepala Desa Paulus Suwatalbessy (2006-2018), Plt. Kepala Desa Albert Bassay (2018), Kepala Desa Karlos Bungajawa, S.Pd (2019-Sekarang).