9 Januari ​2025 sampai 9 Januari 2026 adalah satu tahun waktu yang cukup untuk sekadar merayakan seremonial, namun ia adalah durasi yang sangat singkat untuk merombak struktur kesadaran yang telah berkarat selama berdekade-dekade. Forum Insan Cendikia (FIC) Maluku Utara lahir bukan di dalam ruang hampa yang steril, melainkan lahir dari rahim keresahan atas mandegnya nalar kritis di tengah gemuruh eksploitasi dan banalitas politik di Bumi Moloku Kie Raha.

Ketika kita bicara tentang literasi dalam konteks refleksi satu tahun ini, kita tidak sedang bicara tentang angka minat baca yang dirilis oleh badan statistik, atau tentang berapa banyak perpustakaan desa yang dindingnya dicat warna-warni namun bukunya berdebu. Kita sedang bicara tentang literasi sebagai jalan keberpihakan, sebuah pilihan sadar untuk berdiri di seberang kekuasaan yang korup, di seberang pembodohan sistematis, dan di seberang apatisme kaum terpelajar.

​Literasi dalam kacamata radikal harus dimaknai sebagai upaya membongkar selubung realitas. Di Maluku Utara, kita menyaksikan kontradiksi yang menyakitkan, tanah yang kaya raya dengan nikel dan emas, namun menyimpan kemiskinan struktural yang akut, pendidikan tinggi yang menjamur, namun hanya menghasilkan robot-robot birokrasi yang lumpuh imajinasinya. Di sinilah FIC harus memposisikan diri. Satu tahun perjalanan ini harus menjadi gugatan terhadap definisi “cendikia” yang selama ini terjebak dalam gelar-gelar akademis yang pongah namun bisu terhadap ketidakadilan.

Cendikiawan yang sejati tidak lahir dari ruang kuliah yang sejuk, melainkan dari keterlibatan langsung dengan penderitaan rakyat. Literasi adalah alat untuk menamai penderitaan itu, untuk mengenali siapa musuh sebenarnya, dan untuk menyusun strategi perlawanan. Jika FIC hanya menjadi klub diskusi elit yang gemar mengutip teori-teori Barat tanpa mampu menyentuh realitas di pesisir Halmahera atau pegunungan Obi, maka satu tahun ini hanyalah sebuah kegagalan yang dirayakan.

BACA JUGA   Kiamat Perang Dunia Ketiga Menguat: Apa Langkah Indonesia Memitigasi Konflik Rusia-Amerika?

​Kita harus berani mengakui bahwa literasi di daerah ini seringkali dijinakkan. Ia dijadikan komoditas pencitraan oleh penguasa, di mana literasi dianggap selesai ketika sebuah festival buku digelar dengan kembang api. Ini adalah literasi yang mandul. Literasi yang radikal, yang seharusnya diusung oleh FIC, adalah literasi yang mampu membuat seorang petani memahami mengapa tanahnya dirampas, yang membuat seorang nelayan mengerti mengapa lautnya tercemar, dan yang membuat seorang mahasiswa sadar bahwa dirinya sedang dipersiapkan menjadi sekrup dalam mesin kapitalisme global.

Keberpihakan FIC haruslah eksplisit. Tidak ada jalan tengah dalam intelektualitas. Memilih untuk netral di hadapan penindasan adalah sebuah bentuk kejahatan intelektual. Oleh karena itu, refleksi satu tahun ini adalah momentum untuk menyikat habis sisa-sisa feodalisme berpikir yang masih menghinggapi para “insan cendikia” kita.

​Tajamnya pena harus lebih mematikan daripada peluru, namun pena itu akan tumpul jika ia hanya digunakan untuk menulis sanjungan bagi pemegang kekuasaan demi mendapatkan posisi atau proyek. Maluku Utara hari ini sedang berada di persimpangan jalan sejarah. Apakah kita akan menjadi provinsi yang hanya dikenal sebagai gudang bahan mentah bagi industri dunia, atau kita akan menjadi pusat peradaban baru yang berbasis pada kekuatan gagasan.