Wamenhut Rohmat Marzuki, Wakil Rektor IPB University, Heti Mulyati, dan Ketua Pelaksana, Rinekso Soekmadi, 2026, foto: Istimewa

Jawa Barat — Institut Pertanian Bogor (IPB University) melalui program FOLU Netsink DKSHE melaksanakan penanaman 35.899 bibit di kawasan desa penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (07/4).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Penguatan Pengelolaan Area Preservasi Indikatif untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati, dukungan Nationally Determined Contribution (NDC), serta peningkatan kesejahteraan masyarakat desa penyangga. Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Ketua Pelaksana, Rinekso Soekmadi, menjelaskan program tersebut menggunakan pendekatan lanskap yang mengintegrasikan konservasi, peningkatan serapan karbon, dan kesejahteraan masyarakat.

“Program ini dirancang dengan pendekatan lanskap yang mengintegrasikan upaya konservasi keanekaragaman hayati beserta habitatnya, peningkatan serapan karbon, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal,” ujarnya.

Ia menyebut, kegiatan penanaman merupakan bagian dari rangkaian persiapan yang dilakukan secara sistematis dan partisipatif, mulai dari sosialisasi petani dan lahan, pelatihan geotagging, pembuatan pupuk organik dan pestisida ramah lingkungan, penandatanganan kerja sama, hingga distribusi dan aklimatisasi bibit.

Sebanyak 35.899 bibit ditanam di lahan seluas 269,97 hektare dengan melibatkan 1.188 petani. Bibit tersebut terdiri dari 29 jenis tanaman Multi-Purpose Tree Species (MPTS), seperti alpukat, durian, jeruk, kopi arabika, pala, dan petai.

Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, menyampaikan apresiasi atas program tersebut dan berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke desa-desa penyangga lainnya.

“Harapannya akan ada lebih banyak lagi desa penyangga yang dapat melakukan proses serupa seperti yang dilakukan hari ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, dilakukan penyerahan simbolis bibit kepada perwakilan petani dari empat desa, yakni Mekarjaya, Cipeuteuy, Kabandungan, dan Cihamerang, serta penanaman simbolis oleh Wakil Menteri Kehutanan.

BACA JUGA   Hari ke-2 Ramadhan, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tidore Gelar Buka Puasa Bersama Forkopimda

Dialog antara pemerintah, akademisi, dan kelompok tani juga digelar dalam kegiatan tersebut. Sejumlah isu dibahas, mulai dari pemasaran hasil pertanian hingga keberlanjutan pengelolaan lahan produktif.

Menanggapi hal itu, Wakil Menteri Kehutanan menyatakan pemerintah siap memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Sementara itu, Wakil Rektor IPB University, Heti Mulyati, menyebut IPB memiliki kapasitas untuk memperluas program ke wilayah yang lebih luas.

“IPB siap jika harus memperluas area cakupan wilayah ke seluruh Jawa Barat. Kita punya resource yang cukup,” ujarnya.

Ia menambahkan, Kementerian Kehutanan terus mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk melalui kerja sama dengan forum perguruan tinggi kehutanan di Indonesia.

“Kementerian Kehutanan sudah melakukan MoU dengan Foretika – forum perguruan tinggi kehutanan di seluruh Indonesia. Kita juga terus mendorong kolaborasi multidisiplin,” pungkasnya.

Program tersebut dinilai sebagai langkah awal yang berpotensi menjadi model pengembangan konservasi berbasis masyarakat di kawasan penyangga taman nasional.