Jawa Barat – Program FOLU Net Sink 2030 yang dilaksanakan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University memperkuat kapasitas petani desa penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) melalui pelatihan optimalisasi sistem agroforestri, Kamis (18/6).
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas petani desa penyangga TNGHS dalam pengelolaan lahan berkelanjutan sebagai langkah persiapan menuju pengusulan areal preservasi.
Pada hari kelima pelatihan, peserta memperoleh materi bertema “Optimalisasi Sistem Agroforestri” yang disampaikan dosen Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Dr Adisti Permatasari Putri Hartoyo, S.Hut., M.Si.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Program FOLU Net Sink DKSHE IPB dalam memperkuat kapasitas masyarakat desa penyangga kawasan konservasi. Sebelumnya, program tersebut telah melaksanakan penanaman 35.899 pohon tanaman kehutanan dan Multi Purpose Tree Species (MPTS) di wilayah desa penyangga TNGHS.
Setelah tahap penanaman, fokus kegiatan diarahkan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani agar mampu mengelola lahan secara produktif, berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan.
Kegiatan turut dihadiri Cabang Dinas Kehutanan Wilayah II Sukabumi dan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sukabumi sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kapasitas masyarakat desa penyangga kawasan konservasi.
Dalam sambutannya, Kepala Subbagian Tata Usaha Cabang Dinas Kehutanan Wilayah II Sukabumi, Hadi Purwana, menegaskan, peningkatan kapasitas petani memiliki peran strategis dalam mendukung agenda pembangunan rendah emisi dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
“Peningkatan kapasitas petani dalam pengelolaan lahan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mendukung target FOLU Net Sink 2030” ujarnya.
“Selain mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat desa penyangga TNGHS, upaya ini juga berkontribusi terhadap peningkatan serapan karbon dan pelestarian sumber daya hutan,” lanjut Hadi Purwana.
Sementara itu, Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Kabupaten Sukabumi, Adi Gumbara Putra, mengapresiasi sinergi yang terbangun antara pemerintah daerah, akademisi, kawasan konservasi, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi yang telah terbangun antara pemerintah daerah, akademisi, kawasan konservasi, dan masyarakat,” katanya.
“Sinergi ini perlu terus diperkuat untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa penyangga TNGHS, sekaligus menjaga kelestarian sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan masyarakat,” ungkap Adi.
Dalam pemaparannya, Dr Adisti menjelaskan, agroforestri merupakan pendekatan pengelolaan lahan yang mengintegrasikan tanaman kehutanan dan tanaman pertanian dalam satu hamparan lahan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.


























