Peserta Ekspedisi Rediscover Buru, foto: Istimewa

Maluku — Ekspedisi selam “Rediscover Buru: Moving Forward – Coral Restoration and Beyond” menargetkan restorasi 2.500 fragmen terumbu karang di kawasan pesisir Desa Jikumerasa dan Desa Hatawano sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Laut Sedunia, Minggu (07/06).

Kegiatan tersebut menjadi upaya kolaboratif untuk memperkuat konservasi ekosistem laut sekaligus meningkatkan peran masyarakat pesisir dalam menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan di Pulau Buru.

Ekspedisi yang digagas oleh Wanadri Women Divers (WWD) bersama TNI AL melalui Koarmada IX Maluku itu melibatkan berbagai mitra strategis, di antaranya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas lokal, serta sejumlah lembaga yang memiliki perhatian terhadap keberlanjutan sumber daya pesisir dan laut.

Selama sepekan terakhir, tim ekspedisi melakukan berbagai kegiatan ilmiah dan konservasi, mulai dari pemetaan kondisi terumbu karang, dokumentasi biodiversitas laut, analisis kualitas perairan, hingga identifikasi berbagai tekanan lingkungan yang berpotensi mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir Pulau Buru.

Data yang dikumpulkan diharapkan menjadi landasan ilmiah dalam penyusunan strategi konservasi jangka panjang sekaligus mendukung upaya perlindungan sumber daya laut secara berkelanjutan di wilayah tersebut.

Program restorasi terumbu karang menjadi salah satu fokus utama ekspedisi tahun ini. Kegiatan tersebut berangkat dari temuan lapangan yang menunjukkan adanya indikasi degradasi ekosistem terumbu karang di sejumlah kawasan pesisir Pulau Buru akibat perubahan kualitas lingkungan laut dan berbagai aktivitas yang belum sepenuhnya memperhatikan prinsip keberlanjutan.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan ekosistem laut, tetapi juga berpotensi memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir dan laut.

Sebagai bentuk intervensi nyata, tim ekspedisi menargetkan transplantasi 2.500 fragmen terumbu karang di kawasan pesisir Desa Jikumerasa dan Desa Hatawano. Program restorasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mempercepat pemulihan habitat bawah laut sekaligus meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga ekosistem laut Indonesia.

BACA JUGA   Pemkab Haltim Gandeng Basarnas Gelar Pelatihan Water Rescue untuk Nelayan

Selain kegiatan restorasi ekosistem, ekspedisi ini juga mengembangkan program pemberdayaan perempuan pesisir melalui inisiatif “Ibu Karang”. Program tersebut memberikan pelatihan konservasi laut, pendidikan lingkungan, penguatan kapasitas kader konservasi perempuan, hingga sertifikasi selam bagi perempuan lokal.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut di daerahnya.

Ketua Ekspedisi Wanadri Women Divers, Endah Wahyu Sulistianti, menyatakan bahwa konservasi laut memerlukan kolaborasi yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dan lembaga.

“Laut bukan hanya ruang kehidupan, tetapi juga warisan yang harus dijaga bersama. Melalui Rediscover Buru: Moving Forward, kami ingin membangun gerakan konservasi yang tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menghasilkan dampak nyata bagi ekosistem dan masyarakat pesisir,” ujarnya.