Halbar — Pengurus Besar Suku Wayoli melalui Ketua Biro Pemuda Wayoli Maluku Utara, Marianto Mayau, mengecam keras pernyataan Bupati Halmahera Barat, James Uang, terkait rencana operasional perusahaan geotermal di kawasan Talaga Rano.
Marianto menilai pernyataan Bupati yang menyebut sebagian masyarakat adat Suku Wayoli telah menerima kehadiran investasi tersebut sebagai informasi yang tidak sesuai fakta.
Pihaknya bahkan menyebut klaim tersebut sebagai bentuk hoaks yang berpotensi menyesatkan publik.
“Sebagai pejabat publik, seharusnya menyampaikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya, bukan membangun opini yang menyesatkan rakyat sendiri,” tegas Marianto dalam keterangannya, Jumat (24/4).
Menurutnya, pertemuan yang sebelumnya terjadi antara pihak perusahaan dan sejumlah masyarakat tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya persetujuan resmi dari masyarakat adat.
Ia juga menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan forum representatif yang mewakili sikap kolektif Suku Wayoli.
Lebih lanjut, Marianto menilai narasi yang disampaikan oleh Bupati justru memperkeruh situasi dan berpotensi melukai perasaan masyarakat adat yang selama ini konsisten menolak rencana investasi geotermal di wilayah tanah ulayat mereka, khususnya di kawasan Talaga Rano.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini sikap masyarakat Wayoli tidak berubah, yakni menolak segala bentuk investasi geotermal di wilayah tersebut.
Penolakan itu, kata dia, bukan semata soal pemanfaatan lahan, tetapi berkaitan erat dengan kehormatan, identitas, serta keberlangsungan hidup generasi adat.
“Tanah leluhur adalah kehormatan. Kami tidak akan berkompromi dengan investasi yang berpotensi merusak alam dan mengabaikan hak ulayat,” ujarnya.
Marianto juga menyoroti potensi ekonomi lokal yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat, seperti pala, cengkeh, kakao, dan kelapa.
Ia menilai komoditas tersebut jauh lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dibandingkan kehadiran korporasi yang dinilai hanya berorientasi pada keuntungan.
Di akhir pernyataannya, ia mengingatkan pemerintah daerah agar tidak salah menafsirkan sikap masyarakat Wayoli. Menurutnya, kondisi yang tampak tenang saat ini bukan berarti adanya persetujuan, melainkan bentuk pengendalian diri sambil terus menggalang konsolidasi penolakan.
“Jangan salah tafsir. Kami tetap menolak geotermal dan tidak akan mundur,” tandasnya.
Reporter: Tim Sentra
Editor: Redaksi


























