Firman Laduane (Sekretaris Umum BPC HIPMI Kabupaten Pulau Morotai Periode 2022-2025)

Oleh: Firman Laduane
(Sekretaris Umum BPC HIPMI Kabupaten Pulau Morotai Periode 2022-2025)

Dinamika panjang Musda HIPMI Maluku Utara dalam satu tahun terakhir sesungguhnya bukan sekadar konflik prosedural atau perebutan kursi kepemimpinan. Persoalan yang terjadi jauh lebih mendasar: organisasi ini sedang berada di titik pencarian arah tentang seperti apa wajah kepemimpinan HIPMI ke depan.

Publik tentu masih mengingat bagaimana Musda sebelumnya melahirkan dualisme kepemimpinan. Dalam forum yang sama, dua nama muncul sebagai ketua. Situasi itu kemudian dianulir oleh BPP dan berujung pada Musda ulang. Bahkan setelah menghasilkan keputusan baru, dinamika kembali berujung evaluasi dan pelaksanaan Musdalub.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan satu hal penting: ada krisis kepercayaan terhadap pola kepemimpinan lama yang selama ini dianggap terlalu personal, elitis, dan berjalan sendiri.

Selama bertahun-tahun, banyak pihak menilai bahwa HIPMI sering kali diposisikan hanya sebagai kendaraan membangun relasi instan. Jabatan ketua dianggap sebagai akses memperluas jaringan bisnis dan kedekatan kekuasaan. Dalam situasi seperti itu, organisasi perlahan kehilangan ruh kolektifnya.

Padahal sejak awal, HIPMI dibentuk bukan untuk membesarkan satu figur, melainkan menjadi rumah bersama bagi pengusaha muda agar dapat tumbuh, saling menguatkan, dan menciptakan ekosistem usaha yang sehat.

Karena itu, Musdalub kali ini seharusnya menjadi momentum koreksi besar bagi HIPMI Maluku Utara.

Di tengah situasi tersebut, nama Ronald Reagan Simampow menjadi salah satu figur yang layak dipertimbangkan secara serius.

Ronald Reagan bukan figur yang lahir tiba-tiba dalam momentum politik organisasi. Rekam jejaknya di BPC HIPMI Pulau Morotai menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang berbeda dibanding pola lama yang selama ini dikritik banyak BPC.

Selama memimpin di Morotai, ia dikenal aktif menggerakkan organisasi melalui program-program nyata yang menyentuh pelaku usaha muda dan UMKM. Salah satunya melalui pelaksanaan Expo UMKM yang membuka ruang promosi, memperluas jejaring, sekaligus memperkuat kapasitas bagi pelaku usaha lokal.

BACA JUGA   Musdes Kusubibi Diduga Ilegal, BPD Ancam Tempuh Jalur Hukum

Yang lebih penting, kepemimpinannya tidak berjalan dalam pola “one man show”.

Mekanisme organisasi tetap berjalan. Struktur diberi ruang bekerja. Ruang partisipasi dibuka. Kepentingan anggota diakomodasi. Dalam konteks organisasi kader dan pengusaha seperti HIPMI, model kepemimpinan seperti inilah yang justru dibutuhkan hari ini.

HIPMI Maluku Utara tidak kekurangan orang hebat. Yang selama ini kurang adalah kemampuan mengonsolidasikan energi kolektif para pengusaha muda agar bergerak dalam arah yang sama.

BPC-BPC di daerah sesungguhnya membutuhkan BPD yang hadir sebagai rumah bersama, bukan sekadar panggung pribadi ketua. Mereka membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul, mendengar, dan membangun distribusi peran organisasi secara sehat.

Sebab jika HIPMI terus dikelola secara personal dan eksklusif, maka organisasi ini hanya akan menjadi forum seremonial lima tahunan tanpa dampak nyata bagi pertumbuhan pengusaha muda di Maluku Utara.