“Maluku Utara telah menetapkan 87 warisan budaya tak benda dan Kabupaten Halmahera Barat lebih dari 14 yang berasal dari Suku Sahu,” ungkap Linda.
Pernyataan tersebut menunjukkan besarnya kontribusi masyarakat Sahu terhadap kekayaan budaya Maluku Utara. Warisan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat setempat, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu dilindungi dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat, Festival Budaya Tradisional Suku Sahu menjadi pengingat bahwa modernisasi tidak harus menghapus tradisi. Perubahan zaman memang tidak dapat dihindari, tetapi identitas budaya tetap dapat dipertahankan melalui pendidikan, praktik adat, kegiatan seni, dan keterlibatan aktif generasi muda.
Bagi masyarakat Sahu, mempertahankan Tarian Legu Salai, busana adat, bahasa, dan ritual leluhur bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu. Upaya tersebut merupakan cara untuk memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap hadir dalam kehidupan masa kini dan masa depan.
Suku Sahu boleh berjalan mengikuti kemajuan zaman, tetapi tidak harus kehilangan jati dirinya. Festival ini menjadi pesan bahwa tradisi Suku Sahu tetap hidup, tumbuh, dan diwariskan—sebuah penegasan bahwa Suku Sahu tidak pernah tergilas zaman.
Reporter: Tim Sentra

























