Di setiap era, zaman dan kemajuan umat manusia, generasi muda selalu menjadi kelompok garda terdepan yang selalu membawa harapan dan egoisme yang menggebu-gebu.

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh seorang pakar psikologi Jean M. Twinge yang menyimpulkan bahwa generasi muda memiliki “sense of specialness” atau rasa “saya luar biasa” yang lebih besar dibanding generasi sebelumnya. (Brainworld megazine:2019) Kita bisa melihat bahwa kemampuan ini memiliki keunikan tersendiri yang menjadi bahan bakar bagi kaum muda untuk terus menjalankan produktivitasnya dalam mencapai tujuan yang dia harapkan.

Namun kondisi ini tidak sepenuhnya baik, keinginan yang kuat dan rasa ingin mengauntentikan diri sebagai kaum muda yang produktif bukanlah hal yang mudah dicapai oleh sebagian orang. Sebab pada kondisi tertentu ada sebuah pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala kaum muda tatkala dia melihat ketidaksesuaian antara pengharapan dan realita di sekeliling hidupnya.

Munculnya sebuah pertentangan struktural dan analisis perbandingan yang dia temui baik itu di media sosial atau di lingkungan sekitarnya selalu memunculkan sebuah konflik batin yang bahkan tidak dia pahami. Hal inilah yang kemudian menjadi cikal bakal kemunculan kecemasan eksistensial.

Kecemasan eksistensial adalah bentuk kecemasan yang muncul ketika seseorang menyadari keterbatasan, ketidakpastian, dan makna keberadaannya di dunia. Berbeda dengan kecemasan biasa (yang terkait dengan ancaman spesifik), kecemasan eksistensial bersifat lebih mendasar— berhubungan dengan pertanyaan seperti “Siapa aku?”, “Apa tujuan hidupku?”, “Mengapa aku ada?”, dan kesadaran akan kematian.

Sejalan dengan apa yang telah dibahas sebelumnya, seorang filsuf asal Kanada Søren Kierkegaard dengan aliran eksistensialisme juga pernah memberikan komentar tentang hal ini. Ia menyebut kecemasan (angst) sebagai “pusingnya kebebasan”—yakni perasaan cemas yang timbul karena manusia menyadari bahwa ia bebas membuat pilihan, tetapi kebebasan itu sendiri menimbulkan ketakutan akan kemungkinan yang tak terbatas.(Søren Kierkegaard :1844) Lantas bagaimana proses munculnya gejala ini dapat terjadi?. Penulis akan mengulik melalui psikoanalisis dalam melihat akar munculnya persoalan ini.

BACA JUGA   Anak Kades di Halsel Meninggal Usai Disambar Petir

Teori psikoanalisis adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Sigmund Freud yang menekankan pentingnya proses bawah sadar dalam membentuk perilaku, pikiran, dan emosi manusia. Freud berpendapat bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga struktur utama: id, ego, dan superego, yang saling berinteraksi untuk mengatur dorongan, moralitas, dan realitas. Teori ini juga menyoroti pentingnya pengalaman masa kanak-kanak dalam pembentukan kepribadian dan gangguan mental seseorang. (Sigmundfreud : 1966)

Psikoanalisis merupakan cabang ilmu psikologi yang menekankan adanya pengaruh yang sangat kuat dari 3 struktur utama manusia yang disebut dengan id (keinginan), ego (rasionalitas), superego (moralitas). Apabila ketiga struktur ini saling berbenturan (mencoba untuk mendominasi antara satu dengan yang lain) maka akan memicu kecemasan yang sampai pada kecemasan eksistensial. Untuk lebih jelasnya lagi kita akan menggunakan salah satu istilah dalam psikoanalisis yang disebut dengan represif (repression).