Dalam istilah psikoanalisis represif adalah mekanisme pertahanan ego yang bertugas untuk menekan dorongan- dorongan instingtif yang bersifat libido (seksual), atau agressif (thanatos) kedalam alam bawah sadar karena dorongan- dorongan itu tidak diterima oleh kesadaran, sehingga dapat dikatakan bahwa represif ini mampu untuk menyeimbangkan keseimbangan psikis namun disaat yang sama dia justru menciptakan tekanan internal laten. (London:Hogart press, 1923)
Ketika dorongan yang direpresi terus berusaha muncul ke permukaan, ego harus terus menekan dorongan tersebut. Proses ini menimbulkan ketegangan batin yang kronis, yang kemudian dapat berkembang menjadi kecemasan eksistensial — yaitu perasaan cemas yang tidak hanya terkait dengan objek eksternal, melainkan menyangkut makna keberadaan diri, kebebasan, dan kesadaran akan kefanaan hidup.
Dengan ini kita dapat mengetahui bahwa repressi pada mulanya adalah sebuah sistem yang berfungsi secara positif untuk menjaga keseimbangan psikis berubah menjadi sebuah sistem yang menciptakan kecemasan eksistensial yang menggambarkan sebuah kondisi dimana individu menolak atau menekan dorongan itu ke alam bawah sadar yang mengakibatkan kecemasan universal, mendalam dan sulit dijelaskan secara rasional.
Jika kita kaitkan teori ini dengan permasalahan anak muda yang cenderung mudah menemui kecemasan eksistensial, kita dapat melihat bahwa semangat yang menggebu gebu dari anak muda seringkali beriringan dengan ketakutan, keraguan dan ketidakpastian eksistensial Generasi muda, dalam usahanya menyesuaikan diri dengan standar kesuksesan modern—seperti karier ideal, prestasi akademik, atau eksistensi sosial di media digital—sering kali secara tidak sadar menekan rasa cemas dan ketakutannya akan kegagalan atau kehilangan makna hidup.
Penulis:
Kurniyaji Holle (Mahasiswa IAIN Ternate)











