Di tengah arus informasi digital yang bergerak semakin cepat, krisis ekologis menuntut lebih dari sekadar perhatian sesaat. Ia membutuhkan keberanian untuk berhenti sejenak, mendengarkan suara masyarakat, membaca persoalan secara kritis, dan membangun solidaritas yang berkelanjutan.

Semangat inilah yang diangkat dalam kegiatan screening dan diskusi film The Season of Extinction bertema “Melambat dalam Budaya Layar: Daya Hidup Gerakan Lingkungan Kritis di Tengah Dunia yang Kacau”, yang dipusatkan di Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Jakarta. Kamis (29/10/2026)

Disponsori oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Muhammadiyah dan Ecobhinneka. Kegiatan pemutaran film ini menjadi ruang perjumpaan antara jurnalisme, pengalaman warga, pemikiran akademik, dan perspektif gerakan masyarakat sipil untuk membicarakan tantangan perjuangan lingkungan di tengah perubahan sosial, politik, dan ekologis yang semakin kompleks.

Film The Season of Extinction menjadi medium untuk mengajak publik melihat persoalan lingkungan bukan sekadar sebagai berita, statistik, atau perdebatan di ruang digital. Di balik setiap persoalan ekologis, terdapat kehidupan masyarakat, relasi kuasa, pilihan pembangunan, serta masa depan ruang hidup yang perlu dipertimbangkan secara serius. Melalui pemutaran dan diskusi, peserta diajak merefleksikan bagaimana pengetahuan, pengalaman, dan solidaritas dapat dirawat menjadi kekuatan gerakan lingkungan kritis.

Diskusi menghadirkan Sapariah Saturi, jurnalis Mongabay Indonesia; Suryo Permen, warga Pracimantoro; dan David Efendi, akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kegiatan ini juga dihadiri Muhammad Busyro Muqoddas selaku Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang kehadirannya menambah dimensi kelembagaan dan refleksi mengenai pentingnya tanggung jawab sosial dalam menghadapi persoalan lingkungan.

Sapariah Saturi dalam kesempatan ini membawa perspektif jurnalisme lingkungan yang berperan penting dalam mengungkap persoalan ekologis, menguji narasi pembangunan, dan memastikan suara masyarakat terdampak memperoleh ruang dalam pemberitaan. Di tengah banjir informasi dan kompetisi mendapatkan perhatian publik, jurnalisme lingkungan menghadapi tantangan untuk tidak terjebak pada kecepatan semata, tetapi tetap menjaga kedalaman, akurasi, dan keberpihakan pada kepentingan publik.

BACA JUGA   Gertam Cabai Berbuah, TP PKK Tidore Kepulauan Panen Perdana

Sementara itu, Suryo Permen menghadirkan perspektif warga Pracimantoro yang menjadi bagian penting dalam percakapan mengenai masa depan lingkungan dan pembangunan di wilayahnya. Pengalaman masyarakat lokal perlu ditempatkan sebagai sumber pengetahuan yang bermakna, bukan sekadar pelengkap dalam proses pengambilan keputusan. Setiap perubahan ruang hidup menyangkut kehidupan sehari-hari, keberlanjutan sumber penghidupan, dan hak masyarakat untuk terlibat dalam menentukan masa depan wilayahnya.

Sementara, dari perspektif akademik, David Efendi memberikan ruang refleksi mengenai hubungan antara gerakan lingkungan, demokrasi, dan dinamika masyarakat sipil. Gerakan lingkungan kritis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyampaikan protes, tetapi juga oleh kapasitas membangun pengetahuan, mengorganisasi solidaritas, dan mempertahankan konsistensi advokasi di tengah perubahan perhatian publik.