Di sebuah sudut kampus, pada suatu siang yang tidak terlalu ramai, saya melihat seorang mahasiswi duduk sendirian. Di hadapannya ada layar ponsel yang menampilkan video singkat lucu, cepat, dan nyaris tanpa makna. Di sampingnya, sebuah buku wajib kuliah terbuka begitu saja, belum disentuh.
Ketika ditanya tentang organisasi, dia tersenyum kecil, lalu berkata, “Kayaknya ribet, dan nggak punya waktu.” Pemandangan seperti itu bukan lagi hal yang langka. Ia mencerminkan wajah sebagian mahasiswa hari ini terutama perempuan yang hidup di tengah era serba cepat, namun miskin kedalaman.
Dulu, menjadi mahasiswa adalah tentang idealisme. Tentang buku-buku yang penuh coretan, ruang diskusi yang panas oleh gagasan, dan malam-malam panjang yang dihabiskan di sekretariat organisasi, merancang perubahan meski hanya dari meja kayu tua.
Namun kini, ruang-ruang itu perlahan sunyi. Buku-buku tak lagi disentuh, digantikan oleh layar-layar yang sibuk menyajikan konten cepat, lucu, dan sering kali hampa. Organisasi mahasiswa ditinggal sepi, hanya ramai saat ada pelatihan sertifikat atau kebutuhan administratif. Dan yang paling terasa, adalah hening dari perempuan muda. Mereka hadir, tak merasa perlu untuk mengambilnya. Ada yang takut bersuara, ada yang lelah dianggap remeh, dan banyak yang memilih diam, karena merasa tak ada yang berubah.
Namun kita juga harus jujur,dunia telah berubah. Mahasiswa hari ini hidup di tengah pusaran arus informasi yang tak henti mengalir, dalam ruang digital yang menuntut kehadiran terus-menerus.
Segala sesuatu bergerak cepat. Mereka dibombardir notifikasi, ditarik oleh algoritma, dan disodori standar pencapaian yang semakin berorientasi pada hasil instan IPK tinggi,Maka tak heran jika diskusi panjang dan kerja organisasi yang melelahkan terasa “tidak efisien.”
Dan di sinilah letak persoalannya: ketika proses kehilangan makna, dan hasil menjadi tujuan tunggal. Ketika membaca dianggap lambat, berdiskusi dianggap membuang waktu, dan berorganisasi dianggap menguras energi tanpa jaminan karier.
Fenomena ini bukan tentang kemalasan, tapi tentang sistem. Sistem pendidikan yang lebih sibuk mencetak angka daripada membentuk kesadaran. Sistem sosial yang masih memelihara stereotip “perempuan baik adalah yang patuh dan diam”. Maka terbentuklah generasi yang cerdas secara akademik,
tapi rapuh secara sosial. Pandai membuat presentasi, tapi gagap saat diajak bicara soal keadilan, ketimpangan, atau makna dirinya sendiri.
Perempuan-perempuan yang pernah dan masih bergerak, Indonesia tidak kekurangan teladan perempuan muda yang menjadi penggerak perubahan. Sebut saja S.K Trimurti, jurnalis perempuan pertama Indonesia yang berani menulis pamflet antikolonial sejak masih muda, meskipun itu berarti diburu oleh pemerintah kolonial. Atau Marsinah, buruh perempuan muda yang memperjuangkan hak-haknya dan berani mengorganisir sesama pekerja, hingga akhirnya dibungkam secara tragis.
Di era modern, kita mengenal Najwa Shihab, yang menunjukkan bahwa perempuan cerdas dan vokal bisa membentuk opini publik dan membuka ruang-ruang literasi baru. Ia bukan hanya seorang presenter, tapi penggerak yang menyadarkan generasi muda bahwa suara mereka penting. Kisah-kisah ini seharusnya menjadi bahan bakar, bukan nostalgia. Karena semua perubahan besar dimulai dari keputusan kecil: untuk tidak diam. Untuk membaca satu buku lagi. Untuk bicara di satu forum lagi.


























