Untuk percaya pada suara sendiri meski dunia tidak selalu siap mendengarkan. Padahal sejarah mencatat, banyak perubahan besar lahir dari keberanian perempuan muda yang memilih untuk tidak diam. Dari ruang-ruang kecil yang dipenuhi obrolan panjang hingga aksi-aksi nyata di jalanan. Mereka hadir bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain yang belum sempat bersuara.

Lalu mengapa kini suara itu makin pelan?Mungkin karena sistem pendidikan kita lebih sibuk mendidik anak-anak menjadi pekerja, bukan pemikir. Lebih tertarik menyiapkan tenaga siap pakai daripada warga negara yang sadar dan kritis. Kita didorong untuk cepat lulus, cepat kerja, cepat kaya tapi tidak pernah diajarkan untuk pelan-pelan memahami dunia.
Apalagi mengubahnya.

Itulah sebabnya kita butuh ruang-ruang yang memberi napas panjang: ruang yang memberi tempat bagi tanya, debat, dan resah. Ruang di mana mahasiswa terutama perempuan bisa tumbuh tanpa takut dinilai kurang, salah, atau terlalu banyak bicara. Ruang yang tidak hanya mencetak juara lomba, tapi juga penggerak perubahan.

Tulisan ini adalah upaya kecil untuk merekam realitas itu. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk memahami. Apa arti dari jadi Mahasiswa?, mngapa literasi terasa asing?, mengapa organisasi di anggap tidak relevan?, apa yang terjadi dengan mahasiswa, terutama perempuan di era yang katanya serba maju tapi terasa makin sunyi?. Di mana bacaan kalah saing dengan hiburan, dan organisasi dipandang sebagai beban, bukan ruang tumbuh.

Dengan pendekatan naratif yang berpijak pada fakta dan pengamatan sosial, tulisan ini mengajak pembaca untuk melihat ulang: apa makna menjadi mahasiswa hari ini, dan bagaimana perempuan bisa kembali hadir sebagai penggerak, bukan sekadar pengikut.

Karena sejarah justru ditulis oleh mereka yang berani keluar dari jalan aman. Dan, saya mencoba mengangkat fenomena ini agar tidak hanya menjadi obrolan pinggir jalan, tapi juga bahan refleksi bersama. Bahwa di balik data dan statistik, ada cerita-cerita kecil yang sering luput kita dengar.

BACA JUGA   Bapenda Tikep Gelar Penyuluhan Kebijakan Pajak Daerah di Oba Utara Libatkan 100 Peserta

Bahwa di balik rendahnya minat baca dan organisasi, ada konstruksi sosial, tekanan budaya, dan sistem pendidikan yang layak kita tinjau ulang.