Bogor – Tim peneliti dari IPB University menyimpulkan bahwa aktivitas perkebunan kelapa sawit PT Tri Bahtera Srikandi (PT TBS) bukan merupakan faktor utama penyebab bencana banjir dan longsor yang terjadi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Aek Garoga, Tapanuli, Sumatera Utara, pada 25–26 November 2025 lalu.

Kesimpulan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Ruang Rapat Pusat Reklamasi Tambang IPB University, Jumat (09/1).

Paparan ini sekaligus menjadi respons atas pernyataan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) yang sebelumnya menyebut PT TBS sebagai salah satu pihak yang diduga berkontribusi terhadap bencana hidrometeorologi tersebut.

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, D.E.A., menegaskan bahwa hasil kajian tim akademisi menunjukkan aktivitas PT TBS tidak dapat dinyatakan sebagai penyebab dominan banjir bandang dan longsor di DAS Garoga.

“Berdasarkan analisis spasial, hidrologi, geologi, serta verifikasi lapangan, kegiatan PT TBS tidak dapat disimpulkan sebagai penyebab utama bencana. Penilaian bencana harus dilakukan secara menyeluruh pada skala DAS, bukan secara parsial dengan menunjuk satu entitas usaha,” ujar Prof. Yanto kepada awak media.

Ia menjelaskan, sebagian besar areal perkebunan PT TBS berada di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) dan sebelumnya merupakan lahan garapan masyarakat, bukan kawasan hutan negara.

Selain itu, perusahaan telah mengantongi izin usaha perkebunan, izin lokasi, serta persetujuan lingkungan. Sementara itu, Hak Guna Usaha (HGU) masih dalam proses karena belum seluruh lahan dilakukan ganti rugi kepada pemiliknya.

Konferensi pers tersebut turut dihadiri Pakar Ilmu Tanah IPB University, Dr. Ir. Basuki Sumawinata, M.Agr., serta pakar agrometeorologi dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr. Idung Risdiyanto, M.Sc.

BACA JUGA   Talkshow Premilinery Gekrafs Malut dan KART/L0921 di Gekrafs Preuneur Batch 2

Dr. Basuki menegaskan bahwa kajian ilmiah yang disampaikan tidak dimaksudkan untuk mengonfrontasi pihak mana pun, melainkan untuk melengkapi informasi publik dengan data yang valid dan berbasis sains.

“Kami ingin menambahkan informasi yang akurat agar tidak terjadi salah tafsir. Ini bukan soal membela atau menyerang, tetapi soal data. Kajian ini murni bersifat objektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Idung Risdiyanto memaparkan bahwa bencana banjir dan longsor di DAS Garoga lebih dipengaruhi oleh kombinasi faktor alamiah.

Menurutnya, faktor tersebut antara lain curah hujan ekstrem akibat pengaruh Siklon Tropis Senyar, kondisi geologi berupa batuan induk liat masif yang kedap air, solum tanah yang tipis pada lereng curam, serta kemiringan lereng yang terjal dan tinggi.

“Dalam kondisi seperti ini, tanah dengan cepat mencapai batas mencair atau liquid limit. Pada situasi tersebut, longsor dapat terjadi baik di lahan terbuka maupun kawasan berhutan,” tegasnya.

Hasil kajian ilmiah tim IPB University tersebut juga mendapat dukungan dari para kepala desa dan tokoh masyarakat di desa-desa sekitar areal PT TBS.