Ternate – Zainudin patah hati karena kesalahannya sendiri. Dan Kabupaten Halmahera Barat barangkali jatuh ke titik paling muramnya bukan karena nasib, melainkan karena kesalahan yang sama: pengabaian yang dibiarkan menjadi kebiasaan.

Sedikit atau lebih, terkadang Zainudin duduk di warung kopi di Kota Ternate. Biasanya secangkir kopi di hadapannya mengepulkan aroma pahit yang jujur, tak menjanjikan manis, dan tak pandai berdusta.

Dari sana, ia belajar bahwa patah hati tidak selalu lahir dari pengkhianatan orang lain. Ia sering muncul dari kelalaian diri sendiri, dari sikap merasa aman, dari keyakinan bahwa apa yang dimiliki akan selalu tinggal.

Zainudin kehilangan perempuan yang dicintainya bukan karena dunia terlalu kejam, tetapi karena ia gagal menjaga kepercayaan. Kesalahannya sederhana, nyaris remeh, tetapi berdampak panjang.

Setiap pagi di sebuah ruang sederhana tempat Zainudin berteduh, matahari pelan-pelan memantulkan cahayanya hingga Ia terbangun, bergegas Zainudin mencari ponselnya, bukan untuk membaca berita tentang Halmahera Barat, melainkan melihat kabar dari kekasihnya.

Di titik itulah ia mulai melihat Halmahera Barat dengan cara yang berbeda. Daerah ini seperti dirinya: lelah, terluka, dan perlahan kehilangan harapan.

Infrastruktur yang tertatih, ekonomi rakyat yang stagnan, lapangan kerja yang sempit, serta janji pembangunan yang berulang tanpa evaluasi serius. Semuanya membentuk lanskap kemelaratan yang tidak lahir tiba-tiba, melainkan tumbuh dari kesalahan yang terus dimaafkan.

Jika dalam cinta Zainudin bersalah karena mengabaikan kepercayaan satu orang, maka dalam urusan publik, pemerintah bersalah karena mengabaikan perasaan ribuan warganya.

Ilmu politik menyebut kondisi ini sebagai krisis legitimasi. Ketika kekuasaan masih berjalan secara formal, tetapi kehilangan kepercayaan substantif dari rakyatnya (Habermas, 1973).

Rakyat Halmahera Barat tetap membayar pajak, tetap memilih, tetap patuh. Namun di dalam hati, mereka mulai ragu lalu muncul sepotong tanya. Apakah daerah ini sungguh sedang diperjuangkan, atau sekadar dikelola agar kekuasaan tetap nyaman?.

BACA JUGA   Cerita Relawan Wakaf Al-Qur'an di Halmahera Barat

Zainudin kembali menyeruput secangkir kopi di depannya. Pahitnya konsisten. Tidak berkhianat, berbeda dengan kebijakan yang sering berubah mengikuti kepentingan, bukan kebutuhan.

Di dalam hati Ia bergumam, dalam hubungan personal, pengakuan kesalahan adalah awal pemulihan.

“Namun dalam pemerintahan daerah, pengakuan justru sering dianggap ancaman politik,” gumamnya.

Akibatnya, yang tumbuh bukan optimisme, melainkan pesimisme kolektif. Zainudin menegaskan, anak-anak muda Halmahera Barat memilih pergi.

“Mereka tidak membenci tanah ini, tetapi lelah berharap. Fenomena tersebut bukan karena daerah ini miskin sumber daya, melainkan miskin tata kelola,” tegas Zainudin.

Zainudin, pemuda biasa dari desa pesisir di Jailolo yang adakalanya sering minum kopi, begadang dijadikan budaya, dan merenungi setiap perjalanan kisah yang diisi dengan tawa.

Ia hanya bisa mengutuk dirinya sendiri atas cinta yang gagal. Tetapi siapa yang bertanggung jawab atas patah hati kolektif sebuah daerah?.