Ternate 775 Tahun: Membangun Ikon atau Sekadar Lelucon

Menjadikannya lokasi perayaan seharusnya menjadi pernyataan sikap bahwa pembangunan kota berpijak pada sejarah.
Namun publik berhak bertanya: apakah perayaan ini lebih dari sekadar seremoni? Apakah ia melahirkan refleksi dan komitmen nyata terhadap arah pembangunan kota?
Ketika perayaan hanya berhenti pada panggung, dekorasi, dan pidato, tanpa evaluasi kebijakan ruang dan arsitektur publik, maka Kedaton berisiko direduksi menjadi latar simbolik belaka. Sejarah diagungkan dalam seremoni, tetapi diabaikan dalam praktik.

Mari Belajar dari Usia

Ulang tahun ke-775 seharusnya menjadi momentum refleksi kolektif. Bukan hanya merayakan usia kota, tetapi menjadi dewasa. Ternate tidak kekurangan simbol dan sejarah. Yang sering hilang adalah keberanian untuk membangun dengan makna, bukan sekadar citra.

Jika ikon terus dibangun tanpa narasi, ruang publik tanpa kehidupan, dan sejarah hanya dijadikan dekorasi acara, maka ulang tahun kota akan kehilangan substansinya. Lelucon terbesar sebuah kota bukanlah bangunannya yang aneh, melainkan kegagalannya belajar dari sejarahnya sendiri. Saya berharap opini/kritik ini dipahami sebagai ajakan untuk meneguhkan tanggung jawab etis kita dalam setiap langkah pembangunan. Arsitektur publik mencerminkan peradaban, dan harus bertahan lebih lama daripada masa jabatan para pengambil kebijakan. Selamat Hari Jadi Ternate ke 775

Penulis:

Achsan HZ (Arsitek)

BACA JUGA   Milad HMI ke-79: Ketika Negara Gagal Menjaga Nyawa Anak Bangsa
Just a moment...