AI cenderung bekerja berdasarkan data mayoritas dan standar global, sehingga nilai-nilai lokal dan kemanusiaan sering terpinggirkan. Ketika efisiensi menjadi tujuan utama, pertimbangan moral dan tanggung jawab sosial kehilangan tempatnya.
Ancaman siber menjadi persoalan yang semakin serius. Penipuan daring, pencurian data pribadi, penyebaran hoaks, hingga manipulasi informasi berbasis algoritma semakin marak.
Rendahnya literasi digital membuat masyarakat Maluku Utara rentan menjadi korban. Di sisi lain, AI juga dapat digunakan untuk kepentingan politik dan ekonomi tertentu, seperti membentuk opini publik atau mengontrol arus informasi.
Dalam kerangka Foucault, ini menunjukkan bagaimana teknologi berfungsi sebagai alat disiplin sosial, sementara dalam perspektif Gramsci, hal tersebut memperkuat hegemoni kelompok yang menguasai teknologi dan data.
Lebih jauh, AI berpotensi memperdalam ketimpangan kuasa. Negara dan korporasi yang menguasai infrastruktur digital memiliki posisi dominan dalam menentukan arah kebijakan dan pembangunan.
Kritik terhadap teknologi sering kali dipinggirkan dan dianggap sebagai sikap anti-kemajuan. Padahal, yang dipersoalkan bukan teknologinya, melainkan relasi kuasa dan dampak sosial yang menyertainya. Tanpa kesadaran kritis, masyarakat hanya menjadi objek dari sistem AI yang tidak mereka kendalikan.
Pada akhirnya, hegemoni Artificial Intelligence menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tanpa refleksi kritis justru dapat melahirkan isolasi sosial, krisis etika, dan kerentanan siber.
Oleh karena itu, langkah-langkah solutif yang harus dibangun adalah penguatan literasi digital kritis, agar masyarakat mampu memahami cara kerja AI dan dampaknya terhadap kehidupan sosial.
Pembangunan regulasi dan tata kelola teknologi yang transparan dan berkeadilan, khususnya dalam perlindungan data dan keamanan siber. Reorientasi pembangunan teknologi berbasis kemanusiaan dan nilai lokal, sehingga AI benar-benar menjadi alat pemberdayaan, bukan instrumen dominasi.
Tanpa langkah-langkah tersebut, Mahasiswa di era sekarang berisiko terjebak dalam hegemoni digital yang menggerus solidaritas sosial dan kedaulatan masyarakatnya.
Penulis:
Rian Wahyudi Samsi (Aktivis HMI Ternate)

























