Milad HMI ke-79: Ketika Negara Gagal Menjaga Nyawa Anak Bangsa

Dalam kasus YBS, teori ini dibenturkan pada realitas: negara yang retorikanya besar dan janji-janji politiknya tinggi ternyata masih gagal melindungi nyawa warga negaranya sendiri. Ironi ini menegaskan bahwa pembangunan yang gegap gempita tanpa keadilan distributif adalah pembangunan semu yang menutup mata terhadap luka rakyat yang paling dalam.

Kritik Tajam terhadap Kebijakan Pemerintah

Negara sering merayakan angka-angka statistik: pertumbuhan ekonomi, angka partisipasi sekolah, target-target pembangunan. Namun tragedi YBS menunjukkan bahwa angka saja tidak cukup. Ketidakmampuan keluarga kecil itu membeli buku dan pena yang paling dasar adalah indikator paling tajam dari ketimpangan struktural yang dibiarkan tetap hidup.

Pemerintah pusat dan daerah sering kali menanggapi tragedi semacam ini dengan klaim “kami prihatin” atau janji penyelidikan. Menteri Sosial dan Mendikdasmen pun menyatakan akan memperkuat sistem pendataan dan perlindungan sosial agar tidak ada yang terlewat dari bantuan.

Namun kata prihatin tidak cukup tanpa tindakan yang memastikan; Sistem perlindungan sosial benar-benar mampu menjangkau semua keluarga miskin ekstrem. Bantuan pendidikan menjangkau semua anak tanpa syarat khusus. Dan tidak ada anak yang menilai hidupnya tidak layak hanya karena tidak bisa memenuhi kebutuhan sekolah paling dasar.

Negara yang gagal melakukan hal ini bukan sekadar “abstain dalam pelayanan” ia telah melakukan pengingkaran terhadap pesan moral dan konstitusionalnya sendiri.

Milad HMI ke-79: Momentum Kritis, Bukan Seremoni Kosong

Di usia ke-79, HMI berada di persimpangan: Apakah kita akan menjadi bagian dari kritik moral dan intelektual terhadap sistem yang timpang, atau hanya menjadi pihak yang nyaman berada di lingkaran narasi pembangunan tanpa makna sosial?

HMI lahir dari semangat keberpihakan terhadap mustadh‘afin mereka yang lemah, tertindas, dan terpinggirkan. Spirit ini harus terus menerangi setiap refleksi organisasi di tengah realitas yang terus berubah. Milad HMI bukan sekadar peringatan usia; ia adalah panggilan sejarah agar organisasi ini kembali menjadi penyambung suara yang dibungkam, bukan pengeras suara kekuasaan.

BACA JUGA   Minta Bebaskan 11 Warga Haltim, HMI se-Ternate Geruduk Polda Malut, 1 Demonstran Kena Pukul Polisi

Karena ketika sebuah pena pun menjadi barang yang mahal bagi seorang anak, maka negara telah kehilangan arah, dan perjuangan intelektual seperti HMI harus memanggil kembali nurani bangsa.

Penutup

Milad HMI ke-79 mengajarkan kita satu hal: Perayaan tanpa keberpihakan adalah perayaan tanpa makna. Dan organisasi yang kehilangan keberpihakan sosialnya, sesungguhnya telah kehilangan jati dirinya.

Dirgahayu HMI ke-79. Tetaplah gelisah ketika negara gagal. Tetaplah berpihak pada yang tertindas. Karena diam di hadapan ketidakadilan adalah bentuk paling sunyi dari pengkhianatan.

Penulis:

Riswan Wadi (PTKP HMI Cabang Depok)

Just a moment...