Prosesi Encekan, tradisi syukur hasil panen masyarakat Wonogiri, foto: Istimewa

Oleh: Arifin Muhammad Ade
(Mahasiswa IPB)

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, warga Wonogiri masih mempertahankan tradisi Encekan sebagai bagian dari ritual Rasulan atau bersih desa. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas hasil panen, keselamatan, dan keberlimpahan rezeki yang diperoleh selama satu tahun. Melalui Encekan, warga berkumpul membawa berbagai hidangan dari rumah masing-masing untuk kemudian didoakan dan dinikmati bersama dalam suasana penuh kebersamaan dan gotong royong.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga fungsi sosial yang kuat. Encekan menjadi ruang perjumpaan masyarakat untuk mempererat hubungan antarwarga, memperkuat solidaritas sosial, dan menjaga harmoni kehidupan desa. Kehadiran seluruh lapisan masyarakat dalam satu ruang yang sama menunjukkan bahwa budaya lokal masih menjadi perekat penting dalam kehidupan komunal di tengah semakin menguatnya individualisme masyarakat modern.

Namun, jika dicermati lebih jauh, Encekan tak sekadar berbicara tentang hubungan antar manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan alam. Sebagai tradisi yang lahir dari masyarakat agraris, Encekan berakar pada kesadaran bahwa hasil panen dan keberlangsungan kehidupan manusia sangat bergantung pada kondisi lingkungan.

Kesuburan tanah, ketersediaan air, iklim yang mendukung, serta keberadaan keanekaragaman hayati menjadi faktor utama yang memungkinkan masyarakat memperoleh hasil pertanian yang melimpah. Dengan demikian, rasa syukur yang diekspresikan melalui Encekan pada hakikatnya merupakan pengakuan atas jasa alam sebagai penopang kehidupan.

Di sinilah relevansi tradisi Encekan dengan isu lingkungan hidup menjadi sangat penting. Di tengah meningkatnya krisis ekologis yang ditandai oleh perubahan iklim, pencemaran lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya volume sampah – termasuk sampah plastik, nilai-nilai yang terkandung dalam Encekan dapat menjadi fondasi etika lingkungan yang kuat. Tradisi ini mengajarkan bahwa manusia memiliki kewajiban moral untuk menjaga alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.

BACA JUGA   Korporasi Global, dan Masyarakat Risiko: Membaca Kasus PT Ormat Geothermal Indonesia

Encekan: Solusi atas Krisis Sampah Plastik

Berbeda dengan berbagai kegiatan masyarakat modern yang bergantung pada kemasan dan wadah sekali pakai berbahan plastik, tradisi Encekan yang masih dipertahankan masyarakat Wonogiri justru memanfaatkan batang pisang sebagai media utama untuk meletakkan dan menyajikan makanan yang dibawa warga. Praktik ini menunjukkan bahwa jauh sebelum isu sampah plastik menjadi perhatian global, masyarakat telah mengembangkan sistem penyelenggaraan kegiatan komunal yang ramah lingkungan dan minim limbah.

Batang pisang dipilih bukan hanya karena mudah diperoleh, tetapi juga karena bersifat biodegradable atau dapat terurai secara alami tanpa meninggalkan residu yang mencemari lingkungan. Setelah acara selesai, batang pisang akan membusuk dan kembali menjadi bagian dari siklus alam. Hal ini sangat berbeda dengan plastik sekali pakai yang dapat bertahan ratusan tahun di lingkungan dan berpotensi berubah menjadi mikroplastik yang mencemari tanah, sungai, laut, bahkan masuk ke dalam tubuh manusia melalui rantai makanan.