Ekosistem mangrove dan padang lamun di pesisir berfungsi sebagai penyangga kehidupan masyarakat. Ia menahan abrasi, menyediakan tempat asuhan bagi ikan-ikan kecil, dan menyerap karbon dalam jumlah besar.
Namun, di balik kekayaan ini, kenyataan yang lebih getir sedang menunggu.
Ketika Nikel Lebih Berharga dari Spesies Endemik Halmahera
Deforestasi adalah ancaman terbesar bagi biodiversitas Indonesia. Ketika biodiversitas hilang, layanan ekosistem yang menopang kehidupan ikut lenyap. Hutan yang hilang berarti hilangnya penyerapan karbon dan penyimpanan air. Hilangnya spesies penyerbuk berarti menurunnya produksi pangan. Deforestasi ini bukan hanya merampas habitat spesies endemik, tetapi juga mengurangi daya tahan masyarakat lokal terhadap bencana ekologis seperti banjir dan kekeringan.
Sejak satu dekade terakhir, Maluku Utara menjadi pusat perhatian—bukan karena burung bidadari atau terumbu karangnya, tetapi karena tambang nikel. Hutan yang sebelumnya rapat kini terbuka. Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menunjukkan dalam satu dekade terakhir, dari 188 ribu hektar hutan primer di Maluku Utara, 26.100 hektar telah mengalami deforestasi—terutama disebabkan oleh penambangan nikel yang masif.
Indonesia memang memasok lebih dari 50% nikel dunia, logam penting untuk baterai kendaraan listrik. Tapi pertanyaannya: apakah kita siap membayar harganya dengan kepunahan?. Selain dampak langsung terhadap tutupan vegetasi, peningkatan produksi nikel juga menyebabkan pencemaran udara, tanah, dan sumber daya air. Di pesisir, konversi lahan mangrove terjadi di mana-mana untuk infrastruktur, reklamasi pantai, bahkan terkubur sampah laut. Padahal, riset global menunjukkan bahwa kehilangan mangrove berarti kehilangan kemampuan ekosistem menyerap karbon hingga empat kali lipat lebih besar daripada hutan daratan. Ancaman terhadap biodiversitas Maluku Utara bukan lagi potensi. Ini adalah kenyataan yang sedang berlangsung.
Masyarakat Adat: Korban Pertama, Pahlawan Terakhir
Masyarakat adat dan komunitas lokal adalah kelompok yang paling bergantung pada biodiversitas, sekaligus yang paling rentan ketika biodiversitas hilang. Mereka mewarisi sistem pengetahuan yang berkaitan erat dengan konservasi keanekaragaman hayati. Mereka adalah aktor penting dalam tata kelola lingkungan yang memelihara hubungan antargenerasi dengan alam melalui praktik mata pencaharian, identitas budaya, pandangan dunia, kelembagaan, dan pengetahuan ekologi.
Hutan bagi mereka bukan sekadar bentang alam, melainkan sumber pangan, obat-obatan, dan spiritualitas. Ketika hutan dibuka untuk pertambangan atau perkebunan, mereka kehilangan mata pencaharian, identitas, dan pengetahuan tradisional. Penelitian tentang hutan adat di Indonesia menunjukkan bahwa pengakuan dan perlindungan hutan adat tidak hanya menjaga biodiversitas, tetapi juga menguatkan ketahanan pangan masyarakat. Dengan kata lain, solusi berbasis masyarakat adat adalah jalan tengah antara konservasi dan kesejahteraan.
Kehilangan yang Tak Terlihat, Dampak yang Tak Terelakkan

























