Setiap hari kita disuguhi berita banjir bandang, tanah longsor, gagal panen, hingga wabah penyakit yang menyebar cepat. Kita panik, kita berduka, lalu kita melanjutkan hidup. Namun, ada satu krisis yang bergerak lebih senyap tanpa sirine, tanpa trending topic, tanpa kehebohan media yaitu punahnya keanekaragaman hayati atau biodiversitas.

Spesies menghilang tanpa kata perpisahan. Hutan lenyap tanpa pamit. Ekosistem runtuh tanpa banyak perhatian. Dan kita? Kita terus menggulir layar ponsel, seolah tak ada yang terjadi.

Pertanyaannya sederhana namun menohok: apakah kita peduli?

Tarian Sendu Bidadari Halmahera

Di pagi hari yang lembab di Halmahera, suara burung bidadari (Semioptera wallacii) masih sesekali terdengar dari rimbunnya hutan. Burung dengan bulu ungu dan dada hijau zamrud itu menari di antara pepohonan sebuah ritual yang telah diwariskan ribuan tahun, dari generasi ke generasi. Namun, semakin sedikit orang yang bisa menyaksikan tarian itu.

Jalan tambang dan pembukaan hutan terus merangsek masuk, menyingkirkan hutan tropis yang menjadi rumah mereka. Maluku Utara, gugusan pulau yang kaya dengan hutan primer, mangrove, terumbu karang, dan laut dalam yang melimpah, sering disebut sebagai salah satu surga biodiversitas dunia. Kawasan Wallacea yang membentang di antara Asia dan Australia menjadi saksi betapa uniknya flora dan fauna di wilayah ini: dari kuskus, kakatua putih, hingga spesies-spesies laut yang belum sepenuhnya teridentifikasi. Namun, keindahan itu kini sedang terkikis. Perlahan. Tanpa perlawanan.

Biodiversitas Bukan Soal Satwa Lucu, Ini Soal Hidup Mati Kita!

Mari kita luruskan: biodiversitas bukan sekadar daftar panjang nama latin spesies. Ia bukan hanya foto-foto cantik di majalah National Geographic. Biodiversitas adalah fondasi sistem kehidupan yang menopang pangan, obat-obatan, air bersih, udara sehat, hingga kestabilan iklim.

BACA JUGA   Suara yang Tak Tersuarakan: Wajah Kekerasan Seksual di Tengah Masyarakat 

Ketika lebah menghilang, petani kehilangan penyerbuk dan kita kehilangan makanan. Ketika hutan musnah, cadangan karbon dan sumber air ikut lenyap dan kita kehilangan masa depan. Hilangnya satu spesies sering memicu efek domino yang menghancurkan seluruh ekosistem.

Maluku Utara adalah mosaik ekologi yang luar biasa. Di daratan, hutan hujan tropisnya menjadi rumah bagi beragam satwa endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Burung bidadari Halmahera (Semioptera wallacii) menjadi ikon Wallacea yang keberadaannya eksklusif di wilayah ini. Kakatua putih (Cacatua alba), satwa karismatik dengan bulu putih bersih yang memukau, kini berstatus terancam punah akibat perburuan dan hilangnya habitat. Kuskus beruang Maluku, mamalia nokturnal dengan mata besar yang menggemaskan, keberadaannya makin sulit dijumpai bahkan oleh peneliti yang berpengalaman. Tak kalah penting, kelelawar pemencar biji berperan sebagai penjaga regenerasi pohon hutan tanpa mereka, hutan akan kehilangan kemampuan untuk memperbarui dirinya sendiri.

Di laut, Maluku Utara adalah bagian dari Segitiga Terumbu Karang Dunia (Coral Triangle). Hampir 500 spesies karang keras tercatat di wilayah ini, bersama lebih dari 1.000 spesies ikan karang—mulai dari gurita cincin biru (Hapalochlaena lunulata), ikan Napoleon wrasse (Cheilinus undulatus), hingga Hiu Berjalan Halmahera (Hemiscyllium halmahera) semuanya menjadikan laut Maluku Utara sebagai “bank kehidupan” global.