Kehilangan biodiversitas di Maluku Utara tidak selalu hadir sebagai tragedi dramatis seperti gempa bumi atau pandemi. Ia datang perlahan, senyap, merasuki kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Burung bidadari yang dulu mudah dijumpai di pinggir desa, kini hanya bisa dilihat setelah berjam-jam berjalan jauh ke dalam hutan yang semakin menyusut. Nelayan yang terbiasa membawa pulang ikan penuh jaring dengan wajah penuh senyum, kini pulang dengan ekspresi lesu dan hasil tangkapan yang terus berkurang. Anak-anak pesisir yang dulunya berenang riang di laut jernih dengan terumbu karang berwarna-warni di bawahnya, kini berenang di air keruh yang bercampur lumpur tambang kehilangan masa kecil yang seharusnya menjadi kenangan indah mereka.

Biodiversitas sering dianggap isu “jauh” tentang hutan lebat di pedalaman, satwa liar yang eksotis, atau terumbu karang di dasar laut yang jarang terlihat. Padahal, kaitannya dengan kehidupan kita sangat erat dan konkret: pangan di meja makan kita, udara yang kita hirup setiap detik, hingga obat-obatan yang kita konsumsi ketika sakit. Kurangnya narasi yang menghubungkan biodiversitas dengan kehidupan sehari-hari membuat isu ini kehilangan daya tarik publik. Dan itu adalah kegagalan kita bersama.

Saatnya Bangun dari Ketidakpedulian Kolektif

Untuk membalik keadaan, kita perlu membangun kesadaran kolektif. Edukasi lingkungan harus dimulai sejak dini bukan sekadar pelajaran biologi, tetapi sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan nasional. Media massa perlu menyorot isu ini dengan narasi yang menyentuh, bukan hanya laporan teknis. Akademisi harus berani keluar dari menara gading dan menyampaikan pengetahuan mereka dalam bahasa yang dapat dipahami publik.

Selain itu, kita perlu mendukung gerakan masyarakat sipil dan komunitas adat yang selama ini menjaga hutan dan laut. Mereka bukan “penghambat pembangunan”, mereka adalah garda terdepan yang menjaga masa depan kita.

BACA JUGA   Tabbayun (Untuk Bung Olis)

Jadi, Apakah Kita Peduli?

Biodiversitas adalah jantung kehidupan di bumi. Ia hilang senyap, tetapi dampaknya akan mengguncang keras kehidupan kita jika terus diabaikan. Krisis biodiversitas bukan sekadar isu lingkungan ini adalah isu pangan, kesehatan, ekonomi, dan bahkan eksistensi manusia. Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah kita peduli?

Jika iya, kepedulian itu harus diwujudkan dalam tindakan, dari kebijakan negara, praktik bisnis, hingga pilihan individu sehari-hari. Menjaga biodiversitas bukan hanya soal menyelamatkan flora dan fauna. Ini adalah soal menyelamatkan diri kita sendiri, anak cucu kita, dan masa depan bumi yang kita huni bersama.

Jangan biarkan surga punah tanpa berita. Jangan biarkan tarian sendu sang bidadari Halmahera menjadi tontonan generasi terakhir. Karena ketika alam punah, kita semua akan ikut terkubur.

Penulis : Juniartin (Mahasiswa Program Doktor Biologi, Universitas Gadjah Mada)